Berita dan Event

Apa itu Sakramen Penahbisan?

Pen@ Katolik - 10 hours 17 mnt yang lalu
Paus Fransiskus ketika menahbiskan imam dalam Misa di Basilika Santo Petrus 21 April 2017. (CNS photo/Paul Haring)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN UNTUK PELAYANAN PERSEKUTUAN DAN PERUTUSAN

321. Sakramen untuk pelayanan persekutuan dan perutusan?

Dua Sakramen, Penahbisan dan Perkawinan, memberikan rahmat khusus untuk perutusan tertentu dalam Gereja untuk melayani dan membangun Umat Allah. Sakramen-Sakramen ini memberikan sumbangan dengan cara yang khusus pada persekutuan gerejawi dan penyelamatan orang-orang lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1533-1535

SAKRAMEN PENAHBISAN

322. Apa itu Sakramen Penahbisan?

Sakramen yang melaluinya perutusan yang dipercayakan Kristus pada para Rasul-Nya terus dilaksanakan dalam Gereja sampai akhir zaman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1536

323. Mengapa Sakramen ini disebut dengan Penahbisan?

Tahbisan (ordo) menunjukkan tingkatan gerejawi yang dimasuki oleh seseorang melalui upacara pengudusan khusus (ordinasi). Melalui rahmat khusus Roh Kudus, Sakramen ini membuat orang yang ditahbiskan mampu melaksanakan kuasa suci atas nama dan dengan wewenang Kristus untuk pelayanan Umat Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1537-1538

 

 

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus, tapi menangis di meja makan

Pen@ Katolik - 10 hours 18 mnt yang lalu
Narita bersama anak remaja Agats di stand Pameran Sekami Keuskupan Agats/PEN@ Katolik/pcp

Ketika anak remaja peserta Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (Jamnas Sekami) 2018 di Pontianak mempersiapkan diri untuk Pentas Seni dan para pembina rohani dan direktur diosesan menyiapkan pameran, seorang perempuan asal Saumlaki, Kei, mempertunjukkan kemahiran bermain sulap, tali rafia dipotong-potong dengan gunting namun tersambung kembali saat ditariknya.

Sekitar 275 animator dan animatris Sekami yang datang, sebagai peserta aktif, dari 34 keuskupan di Indonesia bertepuk tangan dalam pertemuan mereka di hari kedua jambore itu, 4 Juli 2018. Pertemuan di Gedung Pasifikus, belakang Katedral Santo Yoseph Pontianak,  itu diadakan untuk saling berbagi kreativitas masing-masing keuskupan dalam melayani anak-anak dan  remaja Sekami.

“Sulap dan berbagai games atau permainan menjadi sarana kami dalam memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak di Keuskupan Agats, Asmat, Papua, dan itu yang kami tampilkan dalam,” kata Margareta Elsina Watkaat yang akrab dipanggil Narita kepada PEN@ Katolik dalam jambore yang diikuti sekitar 1500 orang termasuk panitia.

Penyuluh pertanian di Agats dan relawan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agats itu membenarkan, games termasuk sulap “membantu karya kami di Papua yang tidak punya banyak alat praga” dan alat-alat praga yang diperkenalkan teman-teman seluruh Indonesia dalam pertemuan itu “sangat membantu kami.”

Masih banyak anak di Keuskupan Agats, menurut Narita, belum mengenal siapa Tuhan Yesus itu dan belum bisa membaca. “Maka kami memperkenalkan Tuhan Yesus dengan games atau permainan tentang Kitab Suci serta cara membuka Kitab Suci, mengucapkan kalimat Kitab Suci dan melengkapi kalimat Kitab Suci dengan berbagai cara termasuk Alkitab Ajaib dan matematika Kitab Suci yang menggunakan angka-angka tapi sulit dijelaskan saat ini,” jelas Narita.

Perempuan singel itu juga mengaku sulit menjelaskan kepada anak-anak perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Maka, selain tali rafia, kami gunakan kayu ‘ajaib’ kecil agar anak mempercayai Tuhan, tali pramuka, dan lain-lain.”

Namun, Narita yang belum dua tahun berpindah dari Saumlaki, Keuskupan Amboina, ke Agats merasa berada di tengah anak-anak dan remaja Agats karena panggilan Tuhan. “Dulu saya di Maluku, Saumlaki, tapi panggilan, cara dan rancangan Tuhan berbeda, lebih indah daripada jalan saya, maka ketika Tuhan menyuruh saya ke sana, ya saya ke sana.”

Dijelaskan bahwa dia pindah karena banyak yang bisa menangani anak-anak di Saumlaki. “Di Papua banyak anak butuh sentuhan, maka hati saya tergerak ke sana … dan di sana, saya menikmati keindahan saat bergembira bersama anak-anak. Sungguh, itu kegembiraan yang tidak ternilai. Kalau anak-anak di sana melihat saya datang, mereka ikut dari belakang.”

Meski demikian Narita perlu kekuatan yang dia dapatkan dari doa. “Di sana, kalau saya tidak mendekatkan diri dengan Tuhan, pasti saya tidak kuat,” jelas perempuan asal Maluku yang mengaku mendapat banyak pembelajaran dalam animasi dan edukasi selama Jamnas Sekami 2018.

Selain mendapat banyak teman dari seluruh keuskupan, “satu hal membuat saya menangis saat mendengar ‘Tujuh Permenungan Sebelum Makan’, khususnya mengenai makan berkeadilan atau makan secukupnya dan dihabiskan.” Dalam Laudato Si’, menurut permenungan itu, Paus Fransiskus mengatakan “Membuang makanan sama halnya kita mencuri dari meja makan orang miskin.”

Jamnas Sekami 2018 memang bernuansa Laudato Si’. Dalam acara makan, peserta menjalankan pola makan dengan kesadaran ekologis. Setelah semua mengambil makanan, mereka berdoa bersama, mendengarkan permenungan itu lalu makan dengan hening sekitar lima hingga tujuh menit, baru boleh bicara atau menambah makanan, dan ditutup dengan doa.

Selain makan secara berkeadilan, peserta disadarkan bahwa sepiring makanan adalah alam semesta, karena dihasilkan oleh kerja sama ibu di dapur, pedagang, petani, cacing dan mikroba, mineral, sinar matahari, air dan serangga. Peserta juga diminta makan dengan penuh syukur sambil menikmati keajaiban setiap rasa yang hadir di lidah, mengunyah perlahan-lahan, dan berharap semoga makanan itu penuh welas asih dan tidak di atas penderitaan makluk lain.

Selesai makan, mereka diajak memandang piring kosong di hadapannya dengan penuh rasa syukur karena telah menerima kebaikan alam, dan menyadari bahwa makanan itu telah berubah menjadi tubuh mereka dan kebaikan untuk mereka.

“Benar kan?! Saya datang ke sini tidak sia-sia! Saya dapatkan sesuatu yang paling penting dari Sekami. Selama ini kita membuang-buang makanan tanpa mengingat orang yang tak punya apa-apa, tetapi di sini saya belajar makan sedikit tanpa menyisakan satu butir nasi pun, karena memang saya mengasihi anak-anak miskin,” kata Narita yang menata berbagai alat praga termasuk alat sulap tali rafia di meja pameran Sekami Keuskupan Agats. (paul c pati)

Artikel terkait:

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Stand Pameran Sekami Keuskupan Agats menampilkan beberapa alat praga pendidikan agama termasuk alat sulap tali rafia, kayu ajaib dan akitab ajaib/PEN@ Katolik/pcp Narita memperagakan sulap dengan tali rafia/PEN@ Katolik/pcp Narita bersama tim animatris Keuskupan Agats sedang berbagi pengalaman/PEN@ Katolik/pcp

Paus pikirkan kelelahan dan kesepian para imam dalam pelayanan pastoral

Pen@ Katolik - 10 hours 38 mnt yang lalu

JULI 2018: Para Imam dan Pelayanan Pastoral mereka

Kelelahan para imam … Anda tahu seberapa sering saya memikirkannya? Dengan kelebihan dan kekurangannya para imam bekerja di berbagai bidang. Karena bekerja di banyak bidang, mereka harus tetap aktif meskipun  kecewa.

Di saat seperti itu, ada baiknya bagi mereka untuk mengingat bahwa orang-orang mencintai imam-imam mereka, membutuhkan mereka, dan memercayai mereka.

Marilah berdoa bersama agar para imam, yang mengalami kelelahan dan kesepian dalam pelayanan pastoral mereka, dapat menemukan bantuan dan penghiburan dalam keintiman mereka dengan Tuhan dan dalam persahabatan mereka dengan sesama imam.

Syarat Jadi Murid Sejati

Sesawi.Net - Min, 15/07/2018 - 21:05
DALAM SabdaNya pada hari ini, Yesus menyatakan bahwa Ia menghendaki kesetiaan dan ketaatan para muridNya dalam mengikuti Dia. Untuk dapat melaksanakan permintaanNya, tentunya dibutuhkan pengurbanan dari diri kita masing-masing. Kita harus berani mengalahkan kepentingan pribadi demi mengutamakan kehendakNya, melepaskan segala keterikatan yang menghambat relasi kita denganNya, serta senantiasa hidup jujur berlandaskan kebenaranNya. Meski kehidupan kita […]

Kata Mutiara – Senin 16 Juli 2018

Sesawi.Net - Min, 15/07/2018 - 21:00
KEBOHONGAN cepat tersebar, tetapi Kebenaran bertahan lama. Edgar J. Mohn Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

WKRI DPD Provinsi NTT Gelar Aneka Lomba Meriahkan HUT WKRI ke -94 - Pos Kupang

Google News - Min, 15/07/2018 - 19:36

Pos Kupang

WKRI DPD Provinsi NTT Gelar Aneka Lomba Meriahkan HUT WKRI ke -94
Pos Kupang
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu. POS-KUPANG.COM, KUPANG - Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi NTT akan menggelar aneka kegiatan pada akhir Juli hingga awal Agutus ...

Puncta 16.07.18. Yesaya 1:11-17: Berhentilah Berbuat Jahat

Sesawi.Net - Min, 15/07/2018 - 19:03
BELAJARLAH  berbuat baik. Nabi Yesaya mengingatkan bangsanya bahwa ibadat dan persembahan serta korban-korban bakaran tidak disukai Allah kalau perbuatan-perbuatan umat jauh dari keadilan dan kebenaran. Apa artinya selebrasi ibadat yang megah mewah kalau aksi sosialnya kosong belaka? Romo Vikep Semarang dalam talkshow dengan anak muda lintas iman menegaskan, “kita tidak boleh berhenti pada selebrasi doa […]

Renungan Harian, Senin: 16 Juli 2018, Mat. 10:34-11:1

Mirifica.net - Min, 15/07/2018 - 19:00
EKAN beriman terkasih. Berhadapan  dengan begitu gencarnya  tawaran dunia, cukup banyak orang Kristen yang sukar menegaskan antara kebenaran hidup dan rongrongan dosa. Di zaman demikian ini, setiap murid Kristus dituntut untuk mampu membuat ketegasan dalam bersikap dan hidup secara konsekuen dengan suara kebenaran iman akan Yesus Kristus. Namun, hal ini hanya mungkin tercipta ketika terdapat …

God always Loves Us

Sesawi.Net - Min, 15/07/2018 - 18:12
A Story One day a young man prayed to God. In that prayer, he asks, “Lord, if I keep Your commandments, go to church every week without ever absent, I diligently read the Bible, in my every action I never forget to include You by praying in You, I also dedicate one-tenth part my income […]

Dare to Apologize for Errors

Sesawi.Net - Min, 15/07/2018 - 18:00
A Story Many people are not easy to apologize for the mistakes that have been done. Why? Because they feel that their self-esteem will fall if it is really known that what they have done is wrong. As a result, they persist in their own eyes. And if people dare to say sorry for the […]

Pelita Hati: 16.07.2018 – Kehilangan Nyawa

Sesawi.Net - Min, 15/07/2018 - 17:00
Bacaan Matius 10:34-11:1 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia […]

Informasi Lengkap Profil Mgr Ewaldus Martinus Sedu, Uskup Baru Keuskupan Maumere - Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)

Berita Seminari Tinggi - Min, 15/07/2018 - 07:47

Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)

Informasi Lengkap Profil Mgr Ewaldus Martinus Sedu, Uskup Baru Keuskupan Maumere
Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)
Informasi Lengkap Profil Mgr Ewaldus Martinus Sedu, Uskup Baru Keuskupan Maumere, Amorpost.com – Paus Fransiskus menunjuk Romo Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Keuskupan Maumere. Ia menggantikan Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD ...

and more »

Debu di Kakimu

Pen@ Katolik - Sab, 14/07/2018 - 22:23

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Markus 6:7-13 pada Minggu kelima belas pada Masa Biasa, 15 Juli 2018)

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”  (Markus 6:11)

Injil kita hari ini berbicara tentang misi Dua Belas Rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Tidak ada beban tambahan dan yang tidak perlu. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Dan ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.

Saya saat ini menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien, dan selama kunjungan, saya akan mendengarkan pasien dan mendampingi mereka dalam perjalanan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh dan mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien mereka, atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan martabat. Saya percaya bahwa mereka pada dasarnya rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi praktisi medis dan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual.

Dalam beberapa kunjungan , saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi, dan apati. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.

Apakah kita seorang praktisi medis atau bukan, kita semua dipanggil untuk berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Yesus Kristus ini. Kita semua terluka dan sakit dengan begitu banyak masalah yang kita miliki dalam hidup. Dengan demikian, itu adalah panggilan kita untuk membawa kesembuhan emosional dan spiritual bagi keluarga kita, bagi teman-teman kita, bagi masyarakat kita, bagi lingkungan sekitar kita dan bagi Gereja kita. Ini dimulai dengan kesediaan kita untuk “mengebaskan debu dari kaki kita”, debu ketakutan dan kebencian, debu reaksi emosional yang terburu-buru dalam menghadapi situasi yang menantang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Kaul Pertama dan Pembaruan Triprasetya Para Frater MSF Provinsi Kalimantan di Malang

Sesawi.Net - Sab, 14/07/2018 - 22:20
EMPAT frater MSF memasuki masa yuniorat, setelah mereka mengucapkan pengikraran kaul pertama selama satu tahun ke depan di hadapan Provinsial MSF Kalimantan Romo Jakobus Lingai Imang MSF. Mereka berempat terlebih dahulu mengikuti tahapan Masa Postulat di Seminari Yohaninum – Banjarbaru di Banjarmasin selama satu tahun dan kemudian setahun Masa Novisiatdi Biara Betlehem Novisiat MSF Salatiga […]

Puncta 15.07.18. Markus 6:7-13: Diutus Berdua-dua

Sesawi.Net - Sab, 14/07/2018 - 22:02
DI akhir perayaan pentahbisan imam di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta akhir Juni 2018 lalu,  Bapak Uskup mengutus romo-romo dan frater untuk ditugaskan di luar KAS. Satu imam tugas studi ke luar negri, satu imam tugas pastoral di Keuskupan Tanjung Karang dan satu frater tugas di Keuskupan Ketapang. Masing-masing diberi salib sebagai bekal. Bapak […]

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Pen@ Katolik - Sab, 14/07/2018 - 21:41
Mgr Ewaldus Martinus Sedu/Foto berdasarkan Komsos KWI

Bapa Suci telah menerima pengunduran diri dari tugas pastoral Keuskupan Maumere yang sampaikan oleh Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD dan “Il Papa ha nominato Vescovo di Maumere (Indonesia) il Rev.do Sacerdote Ewaldus Martinus Sedu, finora Vicario Generale della stessa Circoscrizione” (Paus telah mengangkat sebagai Uskup Maumere (Indonesia) Pastor Ewaldus Martinus Sedu, yang kini bertugas sebagai Vikaris Jenderal keuskupan yang sama.”

Pengumuman itu disampaikan oleh Paus Fransiskus lewat Sala Stampa atau Kantor Pers Vatikan hari ini Sabtu, 14 Juli 2018, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 17.00 WIB.

Pastor Ewaldus Martinus Sedu, menurut penjelasan dalam bahasa Italia itu, lahir tanggal 30 Juli 1963 di Bajawa (Keuskupan Agung Ende). Setelah mengikuti Seminari Menengah Mataloko, imam itu menyelesaikan studi filsafat dan teologinya di Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret, Flores. Dia ditahbiskan imam Keuskupan Agung Ende tanggal 7 Juli 1991.

Saat Keuskupan Maumere tercipta sebagai hasil pemekaran Keuskupan Agung Ende 14 Desember 2005, imam itu menjadi imam Keuskupan Maumere. Imam itu kemudian menjadi Pastor Rekan di Paroki Santo Joseph Maumere (1991-1993), Kepala Paroki Maria dari Gung Karmel Wolofeo (1993-1995), Pastor Paroki Santo Yoseph Maumere  dan Kepala Komisi Katekese Keuskupan Maumere (1995-1997).

Imam itu mengikuti menjalani studi untuk Lisensi Pedagogi di Salesianum di Roma (1997-2001) dan kembali menjadi dosen dan formator di Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret (2001-2009). Di tahun 2010 imam itu menjadi Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret dan sejak tahun 2015 menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Maumere.

Pastor Ewaldus Martinus Sedu akan menggantikan Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD. Mgr Kherubim adalah uskup kedua Keuskupan Maumere (sejak 2008) menggantikan Mgr Vincentius Sensi Potokota yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende. Menurut Komsos KWI, ketika bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi Ritapiret, Pastor Ewaldus Martinus aktif sebagai dosen dan pendamping para calon imam diosesan untuk beberapa keuskupan di Provinsi Gerejawi Ende.(paul c pati)

Artikel terkait:

https://penakatolik.com/2016/06/14/mgr-pareira-minta-para-imam-dan-pemimpin-belajar-dari-kebijaksanaan-salomo/

 

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Pen@ Katolik - Sab, 14/07/2018 - 19:42
Foto dari Berita Umat Katedral Bogor

Hari ini 14 Juli 2018, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 17.00 WIB, Sala Stampa (Kantor Pers) Vatikan mengeluarkan pengumuman “Il Santo Padre ha nominato Vescovo della diocesi di Purwokerto (Indonesia) il Rev.do Sacerdote Christophorus Tri Harsono, finora Vicario Generale della diocesi di Bogor” (Bapa Suci telah mengangkat Uskup Keuskupan Purwokerto (Indonesia) Pastor Christophorus Tri Harsono, yang sampai sekarang menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor).

Pengumuman itu juga menjelaskan bahwa Pastor Christophorus Tri Harsono lahir tanggal 18 Januari 1966 di Bogor. Setelah mengikuti Seminari Menengah Stella Maris di Bogor, dia menyelesaikan studi filsafat dan teologinya di Universitas Katolik Bandung (Parahyangan). Dia ditahbiskan imam tanggal 5 Februari 1995 sebagai imam Keuskupan Bogor.

Menurut catatan di hari yang sama dari halaman Facebook dari Pastor Agustinus Surianto Himawan dari Bogor, uskup terpilih itu adalah “anak kolong” yang tinggal dan dibesarkan di kompleks Lanud Atang Sendjaja, Semplak, Bogor, karena ayahnya (Almarhum Pitoyo) merupakan anggota Paskhas TNI-AU. Pastor yang pernah mengenyam studi di Seminari Tinggi Petrus Paulus di Buah Batu, Bandung, itu ditahbiskan imam oleh Uskup Emeritus Bogor Mgr Michael Cosmas Angkur OFM.

“Tugas pastoral pertamanya setelah penahbisan adalah menjadi pastor rekan di Paroki Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung (1995-1996). Setelah itu pindah ke Bogor untuk menjadi pamong di Seminari Menengah Stella Maris (1996-1998),” jelasnya.

Sejak 1998 hingga 2001, imam itu ditugaskan melanjutkan studi bahasa dan budaya Arab di The Center or Arabic Studies of Comboni Missionaries, Cairo, Mesir, dan Pontifical Institut for Arabic & Islamic Studies (PISAI), Roma, Italia.

Sekembalinya ke Indonesia dia “mendapat perutusan sebagai dosen Islamologi pada Fakultas Filsafat Unpar sampai sekarang. Selain itu, pernah juga merangkap menjadi Rektor Seminari Tinggi Petrus Paulus, Bandung (2002-2005, lalu 2008-2014).”

Ketika menetap di Bandung, lanjutnya, imam itu “melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dialog antarumat beragama dan akrab dengan berbagai tokoh lintas agama,” namun di tahun 2014, Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menariknya kembali ke kota Bogor untuk menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor.

Hari ini, Sabtu 14 Juli 2018, Paus Fransiskus mempercayakan tugas baru bagi Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai gembala di Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, melanjutkan pelayanan Mgr Julianus Kema Sunarka SJ yang telah mengundurkan diri karena usia pensiun.

Pengumuman itu secara resmi telah disampaikan pada hari yang sama oleh Pastor Tarcisius Puryatno sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Purwokerto di awal Perayaan Ekaristi Syukur di Gereja Katedral Kristus Raja.

Tanggal 29 Desember 216, Kantor Pers Vatikan mengumumkan bahwa Paus Fransiskus menerima pengunduran diri tugas kepemimpinan pastoral dari Uskup Purwokerto Mgr Julianus Kema Sunarka SJ.

Mgr Sunarka, yang lahir di Minggir, Sleman, DIY, 25 Desember 1941 itu, menjadi Uskup Purwokerto sejak 10 Mei 200 dengan memimpin umat sesuai statistik 27 Juli 2009 sebanyak 64.648 jiwa yang tersebar di 25 paroki.(paul c pati)

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Purwokerto Mgr Sunarka SJ

Mgr Sunarka tidak tahu tanggal kelahirannya tapi menjadi biji mata Tuhan

https://penakatolik.com/2017/08/10/terima-kasih-untuk-tni-au-paroki-lanud-atang-sendjaja-berhari-ulang-tahun-kedua

 

Mgr. Christophorus Tri Harsono Pr, Anak Kolong Jadi Uskup Keuskupan Purwokerto (1)

Sesawi.Net - Sab, 14/07/2018 - 19:35
INI tanggapan Anton Sulis, anggota Dewan Keuskupan Bogor tentang sosok Uskup Terpilih Keuskupan Purwokerto Mgr. Christophorus Tri Harsono Pr yang sekarang  ini masih menjabat Vikjen Keuskupan Bogor. Menurut Anton Sulis menjawab Sesawi.Net, beliau adalah sosok seorang imam yang sangat mendalam  bisa menghayati semangat  katolisitasnya. Ia  paling antusias selalu mau menyemangati umat agar sebagai orang katolik […]

Di Era Jokowi, Rakyat Papua Tidak Bangga Jadi Indonesia - RMOL.CO (Siaran Pers)

Google News - Sab, 14/07/2018 - 19:25

RMOL.CO (Siaran Pers)

Di Era Jokowi, Rakyat Papua Tidak Bangga Jadi Indonesia
RMOL.CO (Siaran Pers)
IRONIS! Memang, judul ini sedikit keras, sekeras kepala batunya orang Papua dan sekasar-kasarnya orang Papua. Apa adanya, tanpa tedeng aling-aling dan munafik. Kami juga bukan manusia tipe kedondong tetapi tipe durian. Kasar di luar halus di dalam.

and more »

Renungan Harian, Minggu: 15 Juli 2018, Mrk. 6:7-13

Mirifica.net - Sab, 14/07/2018 - 19:00
EKAN beriman terkasih, saya percaya bahwa Anda memiliki cinta mendalam akan Yesus. Kita pun percaya, Ia memiliki kasih untuk kita. Cinta dan perhatian-Nya sungguh memperkaya kita. Yesus menghadirkan misteri Allah dengan sangat jeias. Ia adalah jaminan bagi keselamatan kita. Di dalam-Nya kita memperoleh penibusan, meterai Roh l(udus, dan kepenuhan janji Allah. Di dalam Yesus, kita …

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator