Berita dan Event

23 kongregasi perkenalkan diri di “Zaman Now” lewat live in, pameran, talk show

Pen@ Katolik - 5 hours 4 mnt yang lalu

Sebanyak 23 kelompok ordo dan tarekat serta seminari di Keuskupan Agung Pontianak (KAP) merayakan hari Minggu Doa Panggilan se-Dunia ke-55 dengan live in selama tiga hari, 20-22 April 2018, di keluarga-keluarga dalam Paroki Keluarga Kudus Kota Baru KAP.

Kelompok yang ikut live in yang diprakarsai Seksi Kerasulan Keluarga dan Panggilan Paroki Kota Baru itu adalah Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia, CM, Putri Kasih, Alma, SMFA, CSE, Putri Karmel, OP, OFMCap, OSCap, MTB, MSC, CP Putra dan Putri, SFD, KFS, OSA, OSM, MSA, SDC, PRR dan SFIC.

Tujuan live in untuk “memperkenalkan kepada umat, khususnya OMK, tentang berbagai ordo, tarekat, dan kongregasi yang berkarya di KAP, kekayaan panggilan dalam Gereja Katolik, dan mengajak OMK mau menjawab panggilan menjadi imam, bruder dan suster,” kata koordinator seksi itu, Hermanus Herman, kepada PEN@ Katolik.

Lima orang dari setiap ordo atau kongregasi ikut dalam live in bertema “Zaman Now … Masih Mau Berjubah?” dengan hastag #Mendengarkan, Menegaskan, Menghidupi Panggilan# itu. “Kami disambut begitu hangat dan penuh haru. Salah satu keluarga yang kami kunjungi mengatakan, ‘Ini peristiwa langka. Jarang-jarang ada suster, bruder, frater berkunjung ke rumah’,” lanjut Suster Romana SFIC.

Selain memperkenalkan ordo atau tarekat serta sharing pengalaman hidup membiara dan tanya jawab dalam pertemuan bersama umat di lingkungan, yang melibatkan Biak, Rekat, OMK dan umat, peserta juga mengunjungi umat yang sakit, lansia atau jompo, yang bermasalah dan jarang ke gereja.

Dalam kunjungan itu, kata Suster Immaculata SFIC mengatakan kepada media ini, ada anggota keluarga mengatakan, “Menjadi anugerah luar biasa bagi kami setelah dikunjungi suster, bruder maupun frater,” dan ada pula yang mengatakan, “Kaum berjubah ini sungguh membawa berkat bagi keluarga kami.”

Dalam Misa Hari Minggu Doa Panggilan di Gereja Kota Baru, 22 April 2018, yang dipimpin Kepala Paroki Pastor Yulianus Astanto Adi CM bersama enam imam konselebran sebagai puncak aksi panggilan itu, Pastor Andreas Kurniawan OP yang menyampaikan homili mengatakan bahwa tidak mudah mendengarkan suara Tuhan di zaman serba canggih ini.

“Banyak suara lebih menarik terdengar melalui aneka medsos seperti smartphone, sehingga suara Tuhan yang lembut menyapa tidak terdengar lagi,” kata Pastor Andrei yang mengajak umat membangun relasi mendalam dengan Sang Gembala yang baik dan berdoa agar semakin banyak kaum muda bersedia menjawab panggilan Tuhan sebagai imam, bruder maupun suster.

Menurut data, KAP memiliki 97 imam, 317 suster, 48 bruder dan 415.239 umat. “Boleh dihitung secara kasar, satu pastor harus melayani sekitar 4.281 umat. Kita butuh banyak pastor yang bisa menghadirkan Kristus dalam rupa Komuni Kudus sebagai jaminan untuk memperoleh keselamatan, memperoleh hidup yang kekal, sebab Yesus bersabda, Akulah Roti Hidup,” lanjut imam Dominikan itu.

Pastor Astanto berterima kasih atas kehadiran para imam, bruder, frater dan suster yang memberi warna tersendiri di hati umat melalui live in dan aksi panggilan di parokinya dan menghimbau seluruh umat agar lebih tekun berdoa dan merelakan anak-anaknya untuk menjadi imam, bruder dan suster.

Setelah Misa, umat mengunjungi stan-stan panggilan dari berbagai ordo atau kongregasi serta menyaksikan pentas seni oleh para imam, bruder, frater dan suster. “Dulu paham saya, menjadi suster itu hidupnya hanya berdoa, ternyata mereka boleh menampilkan kreasi dan bakat melalui tarian dan lagu,” kata seorang anggota OMK.

Selain makan siang di stan-stan makanan yang disediakan tiap lingkungan, peserta menyaksikan Talk Show Panggilan di halaman gereja, yang dikemas oleh panitia dengan melibatkan OMK. Talk show itu menampilkan Pastor Kebry CM dan Frater Iko Pr sebagai MC dan Pastor John Wahyudi OFMCap, Frater Pio CSE, Suster Erika SDC, dan Suster Margareta OSA sebagai nara sumber.

Pastor John, yang tertarik menjadi imam Kapusin karena jubah coklat dan persaudaraan yang begitu kental dikalangan pengikut Santo Fransiskus Assisi, mengatakan bahwa “panggilan itu misteri dan tidak ada kata terlambat untuk menjawab panggilan-Nya.

Menurut Suster Erika, pertanyaan “Who Am I?” membuat dia berani memutuskan untuk tidak menikah dan menjadi biarawati, karena “saya ingin menjadi berkat bagi orang lain, berani meninggalkan segala-galanya untuk memperoleh segala-galanya.”

Ketertarikan Frater Pio untuk menjadi biarawan tertanam sejak kecil. Dia memilih CSE karena suka dengan cara hidup para rahib Benediktin. “Jangan takut melangkah jika sudah ada panggilan, beranilah mengatakan ‘ya’ karena panggilan itu sekuat jawaban. Semakin berani saya mengatakan ‘ya’ maka saya akan semakin kuat setiap hari,” pesannya kepada OMK.

Suster Margareta mengatakan, dia menjadi biarawati OSA karena pernah diasuh oleh para suster OSA di asrama. “Saya punya keinginan kuat menjadi suster, karena di kampungku belum ada yang jadi imam, bruder dan suster,” tegasnya.

Talk show ditutup dengan doa dan berkat. Sebelum pulang seluruh imam, bruder, frater dan suster naik ke pentas dan menyanyikan “Pangilan Hidupku”.(Suster Maria Seba SFIC)

Kenapa Maria Simorangkir Juara Indonesian Idol meski Kalah Polling dari Abdul? Ini Jawabannya - Surya

Google News - 7 hours 28 mnt yang lalu

Surya

Kenapa Maria Simorangkir Juara Indonesian Idol meski Kalah Polling dari Abdul? Ini Jawabannya
Surya
SURYA.CO.ID - Maria Dwi Permata Simorangkir atau Maria Simorangkir lahir di Kota Medan, Sumatera Utara, 7 Oktober 2001; umur 16 tahun adalah pemenang Indonesian Idol 2018. Maria bershio Ular dan berzodiak Akuarius. Maria adalah seorang penyanyi ...

and more »

Pasar Ekspresi “Sanggar Anak Alam” di Bantul, DIY

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 23:49
SANGGAR  Anak Alam (SALAM) merupakan salah satu satu sekolah  alternatif  di Bantul Yogyakarta. Sekolah yang berada di tengah sawah ini, tidak jauh dari kota Yogyakarta; hanya berjarak 7,5 km. Sekolah yang beralamat di Kampung Nitipraya Kasihan Bantul Yogyakarta ini, sangat diminati oleh masyarakat yang memahami pentingnya kolaborasi dalam mendidik anaknya tiap hari. Sabtu tepatnya 21 April […]

Diutus Untuk Mewartakan Kabar Gembira

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 23:05
YESUS mengutus para murid untuk mewartakan kabar gembira kepada setiap orang di seluruh penjuru dunia. Sebagai muridNya, kita pun memiliki tanggung jawab yang sama untuk memberitakan kasihNya yang menyelamatkan lewat tutur kata, sikap dan tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dibutuhkan kerendahan hati dan ketulusan dalam melaksanakan tugas perutusanNya di dalam karya dan pelayanan kita. Jauhkan […]

Kata Mutiara – Rabu 25 April 2018

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 23:00
PENGINJILAN bukanlah pekerjaan profesional untuk beberapa orang yang terlatih, tetapi sebaliknya penginjilan adalah tanggung jawab yang tak henti-hentinya dari setiap orang yang menjadi anggota tubuh Kristus Elton Trueblood Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Bagaimana para Uskup melaksanakan fungsi penggembalaan mereka?

Pen@ Katolik - Sel, 24/04/2018 - 22:38
Dokpen KWI

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

185. Kapan Kuasa Mengajar Gereja tidak dapat sesat?

Kuasa Mengajar Gereja tidak dapat sesat jika Paus di Roma, sebagai Gembala Tertinggi Gereja, atau Dewan para Uskup, dalam kesatuan dengan Paus, terutama jika berkumpul bersama di dalam suatu konsili ekumenis, memaklumkan secara definitif suatu ajaran yang menyangkut iman atau moral. Kuasa Mengajar juga tidak dapat sesat jika Paus dan para Uskup, dalam Pengajaran biasa, setuju dalam mengusulkan sebuah ajaran secara definitif. Setiap umat beriman harus tunduk pada ajaran tersebut dengan ketaatan iman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 890-891

186. Bagaimana para Uskup melaksanakan pelayanan pengudusan mereka?

Para Uskup menguduskan Gereja dengan menyebarkan rahmat Kristus melalui pelayanan sabda dan Sakramen-Sakramen, khususnya Ekaristi Kudus, dan juga lewat doa, teladan, dan karya mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 893

187. Bagaimana para Uskup melaksanakan fungsi penggembalaan mereka?

Setiap Uskup, sejauh dia menjadi anggota Uskup, mempunyai tugas untuk melayani semua Gereja partikular dan seluruh Gereja bersama dengan semua Uskup lain yang ada dalam kesatuan dengan Paus. Seorang Uskup yang mendapat kepercayaan untuk melayani suatu Gereja partikular, melaksanakan tugasnya dengan wewenang kuasa sucinya sendiri yang biasa dan langsung dan melaksanakan dalam nama Kristus, Gembala yang Baik, dalam kesatuan dengan seluruh Gereja di bawah naungan pengganti Petrus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 894-896

Wakil-wakil Katolik dan Protestan membuat dokumen bersama tentang pendidikan perdamaian

Pen@ Katolik - Sel, 24/04/2018 - 22:26
Dari kiri ke kanan: Pastor Markus Solo SVD (anggota delegasi dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, Vatikan, PICD), Marietta Ruhland (Anggota delegasi Dewan Gereja-Gereja se-Dunia WCC), Dr Olaf  Fykse Tveit (Sekretaris Jenderal WCC), Mgr Indunil Janakaratne Kodithuwakku Kankanamalage (anggota delegasi PICD), Dr Peniel Rajkumar (anggota delegasi WCC), Mgr Santiago Michael (anggota delegasi PICD)

Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) dari Vatikan dan Kantor Dialog Antaragama dan Kerja Sama Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) bertemu di Jenewa, Swiss, dari 16-18 April 2018, untuk merayakan pertemuan tahunan mereka. Staf dari kedua kantor itu menyatu dalam doa, persahabatan, dan kerja bersama membuat sebuah dokumen berjudul “Pendidikan untuk Perdamaian dalam Dunia yang Multi Agama.” Delegasi PCID juga bertemu dengan Pendeta Olav Fykse Tveit, sekretaris umum WCC. Seraya mengungkapkan kegembiraannya atas kunjungan yang akan datang dari Paus Fransiskus ke WCC pada kesempatan ulang tahun ke-70 WCC, Tveit menekankan bahwa kunjungan kepausan akan menjadi kesaksian harapan sekaligus peluang untuk kerja sama ekumenis lebih lanjut demi umat manusia kita bersama. Delegasi PCID juga mengakui dengan penuh syukur persahabatan dan kerja sama yang mereka alami selama masa jabatan Dr Clare Amos, yang pensiun baru-baru ini dari WCC. Kedua delegasi sepakat untuk melanjutkan kerja sama erat mereka dalam mengembangkan dialog antaragama secara ekumenis. (pcp, berdasarkan www.oikoumene.org)

 

 

Penghasilan sangat kecil dari guru agama Katolik, bahkan tanpa honor, jadi perhatian

Pen@ Katolik - Sel, 24/04/2018 - 22:13

Anggota Tim Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta (Komdik KAJ) Aloysius Prasetio mengatakan, komisinya sangat prihatin dengan penghasilan guru agama Katolik yang mengabdikan dirinya di lembaga pendidikan negeri dan swasta non-Katolik, namun belum mendapatkan upah sesuai harapan, bahkan jauh dari upah minimum regional.

Keprihatinan itu diungkapkan Aloysius Prasetio dalam rekoleksi para guru Katolik yang mengajar di lembaga pendidikan negeri dan swasta non-Katolik yang dilaksanakan di aula Paroki Santa Helena, Tangerang, 14 April 2018. Sebanyak 60 guru dari 13 paroki di Dekenat Tangerang, KAJ, hadir dalam rekoleksi itu.

Pernyataan Prasetio itu muncul untuk menanggapi sharing pengalaman dari Yusup Purnomo Hadiyanto bahwa ada banyak guru tetapi hanya sedikit yang terlibat bahkan susah mendapatkan guru untuk memberikan pendidikan agama Katolik atau katekese bagi umat lainnya.

“Mengharapkan guru aktif mengajar di paroki dan melayani para siswa sepertinya banyak kendala. Mereka mengaku waktunya tidak ada, dan seksi pendidikan tidak memberikan honor untuk membeli bensin dalam membantu pelayanan anak didik,” kata Yusuf.

Namun dia mengakui, kondisi itu bukan hanya terjadi di Paroki Santa Helena Curug, tapi di paroki-paroki se-KAJ. Oleh karena itu, Yusuf berusaha mendapatkan alokasi sejumlah dana dari dewan paroki setempat. “Sekalipun jumlahnya hanya 1.500.000 rupiah per tahun, itu bisa digunakan untuk memberikan perhatian kepada para guru yang ikhlas mengabdikan diri selama ini,” katanya.

Prasetio mengakui, karena penghasilan guru honor yang bekerja di paroki dan sekolah-sekolah negeri swasta menjadi perhatian, maka Komdik KAJ mendorong paroki masing-masing untuk memberikan honor kepada para guru Katolik itu, “sebab bagaimana pun para guru itu adalah ujung tombak dari Komdik KAJ yang ikut melakukan reksa pastoral KAJ seperti yang diamanatkan dalam program Komdik.”

Menurut informasi yang diterima PEN@ Katolik, gaji dari sejumlah guru yang mengajar di sekolah negeri dan swasta masih jauh dari harapan, padahal selain mengajar mereka ikut serta membina kelompok Bina Iman Anak dan Bina Iman Remaja.

Anggota Komdik KAJ, Mari Irawati Sidharta juga mengakui kondisi minimnya honor guru agama Katolik dan mengusulkan agar kondisi itu dipetakan oleh masing-masing kepala paroki untuk memberikan honor walaupun sedikit kepada para guru yang bekerja untuk paroki.

Anggota lainnya, Alexius Aur, menambahkan bahwa tengah kesulitan yang dihadapi itu, para guru mencoba merefleksikan pekerjaannya itu dengan mengatakan bahwa hambatan itu memang ada “tetapi lakukan pelayanan itu sebaik-baiknya karena Tuhan pasti memberikan jalan terbaik dalam mengatasi kesulitan tersebut.”

Film Bapak Abraham yang dikenal sebagai Bapak Bangsa diputar juga pada kesempatan itu untuk menunjukkan bahwa kendati mengalami pencobaan, pada akhirnya Tuhan memberikan hikmat yang luar biasa kepada Abraham.(Konradus R Mangu)

Vox Point Indonesia Ajak Warga Indonesia Membangun Politik ... - Banjarmasin Post

Google News - Sel, 24/04/2018 - 21:44

Banjarmasin Post

Vox Point Indonesia Ajak Warga Indonesia Membangun Politik ...
Banjarmasin Post
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Penasehat Vox Point Indonesia Pusat, DPN Jakarta, Budhi Hendarto sebutkan puluhan nama pengurus DPD Vox Point Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan. Dimana para pengurus tersebut kemudian dilantik oleh Ketua Umum ...
Menjadi Provinsi Ke 13, Sekarang Vox Point Indonesia Lantik DPD ...info terbaru (Blog)

all 3 news articles »

Puncta 25.04.18. Markus 16:15-20: Pergilah ke Seluruh Dunia

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 20:40
GEREJA hari ini merayakan St. Markus pengarang Injil. Markus adalah murid kesayangan St. Petrus. Ia menyertai Petrus mewartakan Yesus yang bangkit. Tulisannya adalah saksi utama tentang siapa Yesus. Yesus sebagai Anak Allah datang untuk menyelamatkan manusia. Hidup, karya, wafat dan kebangkitanNya adalah wujud nyata Allah yang mengasihi manusia. Sabda Yesus kepada murid-muridNya, “Pergilah ke seluruh […]

Menjadi Provinsi Ke 13, Kini Vox Point Indonesia Lantik DPD Fox Point Indonesia Provinsi Kalsel - Banjarmasin Post

Google News - Sel, 24/04/2018 - 19:50

Banjarmasin Post

Menjadi Provinsi Ke 13, Kini Vox Point Indonesia Lantik DPD Fox Point Indonesia Provinsi Kalsel
Banjarmasin Post
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menjadi Provinsi yang ke 13 dibentuknya Vox Point Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, Keluarga Katolik Banjarmasin adakan pelantikan pengurus organisasi tersebut, Selasa ...
Menjadi Provinsi Ke 13, Sekarang Vox Point Indonesia Lantik DPD Fox Point Indonesia Provinsi Kalselinfo terbaru (Blog)

all 2 news articles »

Renungan Harian, Rabu: 25 April, Mrk. 16: 15-20

Mirifica.net - Sel, 24/04/2018 - 19:00
ERINTAH Yesus kepada murid-murid-Nya ialah mewartakan Injil kepada semua makluk. Mewartakan Injil berarti membawa suka cita Injil kepada segala bangsa. Dalam melaksanakan tugas perutusan tersebut para murid diberi kuasa.  Mereka bisa berbicara dalam beragam bahasa, tidak celaka meski minum racun maut dan mampu menyembukan orang sakit. Mereka mampu membuat mukjizat dalam nama Yesus. Namun, pewartaan …

Tiga Gereja Tampung Pengungsi di Myanmar 

UCANews - Sel, 24/04/2018 - 18:13

Lebih dari 900 warga sipil mengungsi dan tinggal di tiga gedung gereja di Negara Bagian Kachin, Myanmar, di tengah pertempuran antara militer dan pemberontak Kachin.

Para pengungsi yang berasal dari Desa Kasung dan Desa Zup Mai tersebut tinggal di dua gedung gereja Katolik dan sebuah gedung gereja Baptis di Kota Namti setelah sejumlah kelompok Gereja menyelamatkan mereka pada Minggu (22/4).

Pastor Peter Hka Awng Tu, pastor kepala Paroki Katedral St. Kolumban, mengatakan warga Desa Zup Mai harus berjalan kaki selama tiga hari setelah meninggalkan rumah mereka pada Jumat (20/4) lalu.

Menurut imam itu, umat paroki menyumbang pakaian dan makanan kepada para pengungsi pada Senin (23/4).

Ia mengatakan mereka menyelamatkan warga sipil termasuk wanita, anak-anak dan orang tua itu setelah bertemu dengan komandan militer yang memberi lampu hijau.

“Saat ini warga tidak bisa pulang ke desa mereka karena situasi tidak aman bagi mereka, pertempuran yang lebih besar bisa saja terjadi. Kelompok-kelompok Gereja akan terus memberi bantuan kemanusiaan,” katanya kepada ucanews.com.

Pada Jumat (20/4), militer Myanmar melancarkan serangan udara untuk melawan Laskar Kemerdekaan Kachin (LKK) di dekat Desa Kasung. Akibatnya, ratusan orang mengungsi.

Lebih dari 1.000 warga Desa Kasung yang terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Namti mengungsi pada Agustus 2017 menyusul pertempuran antara militer dan LKK.

Kota Namti terletak sekitar 26 kilometer dari Myitkyina, ibukota Negara Bagian Kachin.

Pengungsi baru membawa barang milik mereka sebelum kelompok-kelompok Gereja membawa mereka ke gedung gereja di Kota Namti pada Minggu (22/4) lalu. (Foto: Konvensi Baptis Kachin) 

 

Lebih dari 2.000 orang masih terjebak di sebuah hutan sejak pertempuran antara militer dan pemberontak LKK terjadi di dekat Desa Awng Lawt dan desa-desa sekitar pada 11 April.

Sekitar 200 umat Katolik masih terombang-ambing setelah menghadiri sebuah perayaan yubileum pada 8-9 April di Tanai, sebuah wilayah pertambangan emas dan ambar. Mereka juga tidak bisa pulang ke desa, kata Pastor Awng Tu.

Imam itu mengatakan Uskup Myitkyina Mgr Francis Daw Tang bertemu Mayor Jenderal Nyi Nyi Swe, komandan militer, pada 16 April lalu untuk membicarakan tentang warga sipil yang terjebak, bantuan kemanusiaan, pertempuran yang masih berlangsung dan proses perdamaian.

Pendeta Hkalam Samson, ketua Konvensi Baptis Kachin, mengatakan Gereja dan para donatur menyediakan tempat berteduh, makanan dan barang-barang lainnya kepada para pengungsi yang baru tiba.

“Sementara kami begitu prihatin dengan keselamatan warga sipil yang tetjebak di hutan dan kekurangan makanan serta tidak bisa mengakses kelompok bantuan, semakin banyak pertempuran terjadi yang mengakibatkan semakin banyak orang mengungsi,” katanya kepada ucanews.com.

Pemimpin Gereja Baptis itu mengatakan Gereja Katolik dan Gereja Baptis tengah merencanakan program pemukiman kembali bagi mereka yang telah dua kali mengungsi dan mereka yang tidak bisa pulang ke rumah.

Sekitar 3.000 orang mengungsi di Negara Bagian Kachin, demikian laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (23/4).

Di Negara Bagian Kachin, 90 persen penduduknya adalah umat Kristiani. Mereka telah menyaksikan pertempuran sporadis selama beberapa dekade. Lebih dari 100.000 orang masih mengungsi di negara bagian ini dan Negara Bagian Shan sejak pertempuran mulai terjadi kembali pada 9 Juni 2011.

Militer meningkatkan perlawanan di Negara Bagian Kachin sejak awal Desember lalu dengan melancarkan serangan terhadap LKK dengan menggunakan artileri berat, helikopter dan pesawat tempur.

Pemerintah berjanji untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade tersebut. Namun pertikaian baru telah merusak inisiatif damai. Pertempuran ini juga memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh Konselor Negara Aung San Suu Kyi terhadap militer.

 

Bertemu OSO, PMKRI Bahas Persoalan Bangsa - Tribunnews

Google News - Sel, 24/04/2018 - 17:54

Tribunnews

Bertemu OSO, PMKRI Bahas Persoalan Bangsa
Tribunnews
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia bertatap muka dengan ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Oesman Sapta Odang, membahas persoalan kebangsaan. Oesman Sapta menyebut pemuda sebagai tulang punggung ...

Blusukan Tri Hari Suci 2018: Mengalami Keramahan Umat Stasi St. Faustina Asam Merah (6)

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 17:17
HARI Sabtu (31/3/18) bulan lalu itu sungguh jadi hari yang cukup santai bagi saya. Setelah mandi, saya dan Rina diajak Romo Frans untuk sarapan. Di ruang makan, para romo sudah berkumpul, saling bercerita pengalaman selama melakukan pelayanan sakramental di stasi-stasi dua hari sebelumnya. Romo Vinsensius Setiawan Triatmojo Pr sangat terkesan dengan pengalaman kami  di Stasi […]

Pelita Hati: 25.04.2018 – Hiduplah dalam Kebaikan

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 17:00
Bacaan Markus 16:15-20 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk […]

Hari Minggu Panggilan 2018 di Paroki St. Maria Assumpta Babarsari, Yogyakarta

Sesawi.Net - Sel, 24/04/2018 - 16:03
HARI Minggu, 22 April 2018, adalah Hari Panggilan. Saya dengan satu saudara novis MTB diminta memberi kesaksian sebagai ganti homili saat itu. Semacam sharing panggilan yang dipandu oleh Pastor Paroki  St. Maria Assumpta Babarsari Yogyakarta  dengan pendekatan wawancara. Pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah panggilan, mengapa memilih jadi religius, suka duka dalam hidup membiara, sejarah kongregasi, karya terakhir […]

5 Fakta di Balik Video Klip Terbaru Tulus, Sam Smith-nya Indonesia Nih - IDN Times (Siaran Pers) (Blog)

Google News - Sel, 24/04/2018 - 15:38

5 Fakta di Balik Video Klip Terbaru Tulus, Sam Smith-nya Indonesia Nih
IDN Times (Siaran Pers) (Blog)
Muhammad Tulus adalah musisi berbakat Indonesia yang karyanya selalu berhasil memberikan kejutan yang gak terduga. 2016 hingga awal 2018 ini adalah tahun yang cukup cemerlang bagi seorang Tulus. Karier bernyanyinya berhasil membuatnya masuk dalam ...

Di Pakistan, Wanita Protestan Dibunuh Setelah Menolak Menikahi Pria Muslim

UCANews - Sel, 24/04/2018 - 15:19

Seorang wanita beragama Protestan meninggal di Pakistan setelah seorang pria beragama Islam membakarnya karena menolak meninggalkan iman Kristiani dan menikahinya.

Asma Yaqoob, 25, merupakan asisten rumah tangga di rumah milik seorang Muslim di Sialkot, 106 kilometer dari Lahore, ketika insiden terjadi pada Selasa (17/4).

Setelah dibawa ke sebuah rumah sakit setempat, Asma kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Mayo di Lahore. Ia mengalami 90 persen luka bakar di sekujur tubuhnya dan meninggal pada Minggu (22/4).

Ayahnya, Yaqood Masih, menuduh Rizwan Gujjar menyiram anaknya dengan air keras atau bensin dan membakarnya.

“Kami sedang mengunjungi Asma pada 17 April malam ketika seseorang mengetuk pintu. Dia keluar untuk melihat dan beberapa saat kemudian kami mendengar dia menjerit di halaman,” kata Masih dalam laporannya kepada polisi.

“Pakaiannya terbakar. Kami melihat Gujjar kabur. Kami mengejar dia tapi dia berhasil lolos. Dia ingin menikahi anak saya, tapi anak saya menolak karena perbedaan agama,” lanjutnya.

Gujjar, seorang pembuat spanduk, saat ini ditahan polisi. Polisi mengatakan ia mengaku melakukan kejahatan tersebut.

Pemakaman Asma diadakan pada Senin (23/4) di Sialkot. Menteri Hak Asasi Manusia dan Minoritas Punjab, Khalil Tahir Sindhu, mengunjungi keluarganya pada Selasa (24/4).

Dalam sebuah pernyataan pers beberapa jam setelah kematian Asma, Yayasan Cecil dan Iris Chaudry, sebuah kelompok Katolik, mengutuk “aksi brutal dan mengerikan” itu dan menuntut keadilan bagi Asma.

“Gujjar memaksa dia untuk masuk Islam … kami sudah minta hakim di Pakistan untuk memperhatikan kejahatan mengerikan ini dan untuk memastikan bahwa pelaku diadili,” demikian pernyataan pers tersebut.

Komite Aksi Kristiani Pakistan (KAKP) menyampaikan pesan kepada para perempuan Kristiani dalam sebuah video.

“Kami salut atas keteguhan iman Asma. Saya minta kalian untuk melaporkan pelecehan seksual atau psikis kepada pendeta, imam dan tokoh politik kalian atau kepada seorang teman yang tulus. Kami akan mencatat dan membantu kalian mendapatkan keadilan. Namun umat Kristiani harus melakukan protes secara damai,” kata Pendeta Amjad Niamat, ketua KAKP.

“Keluarga miskin biasanya ditekan untuk mencabut laporan, menerima diya (uang darah) dan berdamai dengan pelaku. Kami menuntut agar kasus ini disidangkan di pengadilan khusus, bukan pengadilan negeri,” lanjutnya.

Asisten rumah tangga Kristiani sering menjadi subyek penyiksaan dan pelecehan di Pakistan. Tahun 2010, Kiran George diperkosa dan dibakar oleh anak laki-laki majikannya di Sheikhupura. Ia juga meninggal di Rumah Sakit Mayo.

Pada tahun yang sama, Shazia Masih, seorang asisten rumah tangga beragama Katolik, ditemukan tewas dengan luka bekas siksaan di tubuhnya di rumah Chaudhry Muhammad Naeem, mantan ketua Lahore Bar Association, sebuah organisasi pengacara. Pengacara Muslim ini dan keluarganya dinyatakan bebas oleh sebuah pengadilan pada November 2010.

Menurut laporan Yayasan Penyintas Air Keras, sebanyak 153 serangan air keras terjadi pada 2014, namun jumlah korban turun 52 persen pada 2016. Sebagian besar korban adalah perempuan. Sekitar 85 persen dari serangan air keras terjadi di Punjab. Banyak anak menjadi korban karena berada di dekat korban.

Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan mencatat sebanyak 51 serangan air keras dengan 67 korban perempuan pada 2016.

 

Misionaris Prancis ‘Menabur Benih Kebaikan’ di Vietnam

UCANews - Sel, 24/04/2018 - 12:45

Konferensi Waligereja Vietnam memberi penghormatan kepada kogregasi religius Prancis untuk membantu ratusan rohaniwan lokal selama 25 tahun terakhir.

Uskup Agung Hue Mgr Joseph Nguyen Chi Linh, ketua Konferensi Waligereja Vietnam, mengatakan Misi Etrangeres de Paris (Masyarakat Misi Asing Paris, MEP)) telah mensponsori 169 imam Vietnam dan 14 biarawati untuk belajar filsafat, teologi, ilmu hukum kanonik dan ilmu sosial di Institut Catholique de Paris (Universitas Katolik Paris) sejak 1993 setelah pemerintah komunis melonggarkan cengkeramannya terhadap agama.

Uskup Agung Linh, yang memperoleh gelar doktor  bidang filsafat lulusan tahun 2003, mengatakan 16 alumninya telah menjadi uskup dan uskup agung,  sementara yang lain menjadi pengajar di seminari dan Provinsial dan menjabat berbagai posisi penting di Gereja lokal.

“Gereja lokal memiliki pencapaian luar biasa ini berkat upaya MEP  menanam benih yang baik di ladang evangelisasi di Vietnam,” kata Uskup Agung Linh, seraya menambahkan  umat memenuhi kebutuhan mendesak dengan menghasilkan imam yang terdidik baik  mengembangkan Gereja lokal.

Prelatus,  68,  yang menjadi anggota kehormatan MEP pada 28 Februari, berbicara pada pertemuan para pastor dan umat di Pastoral Center di kota Hue pada 18-19 April.

Superior General MEP, Pastor Gilles Reithinger, pendahulunya, Pastor Jean Baptiste Etcharren dan anggota MEP lainnya termasuk di antara 140 uskup, imam, dan rohaniwan lainnya pada pertemuan tersebut.

Uskup Agung Linh mengatakan acara itu merupakan kesempatan bagi Gereja lokal untuk menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam kepada MEP dan bagi penerima beasiswa  memperkuat hubungan.

Uskup Joseph Vu Van Thien dari keuskupan Hai Phong, yang menyelesaikan studi teologi di universitas Paris  tahun 2000, mengatakan semua mahasiswa bersyukur atas kesempatan mereka untuk belajar dan menjadi dewasa dalam iman untuk melayani Gereja lokal.

“Sangat penting bahwa semua mahasiswa telah mempelajari  pelajaran tentang komitmen untuk melayani, semangat evangelisasi dan menjangkau orang-orang dari misionaris MEP dan profesor dari universitas,” katanya.

Uskup Thien, ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Vietnam, memuji para misionaris MEP, terutama Pastor Etcharren, karena sudah menghabiskan hidup mereka untuk melayani Gereja di Vietnam dan menjadikan Vietnam seperti keluarga mereka di masa-masa sulit.

Pastor Etcharren mengatakan 82 misionaris MEP termasuk dia sendiri dipaksa meninggalkan Vietnam selatan segera setelah pasukan komunis menguasai negara itu pada April 1975. Dia bekerja dengan umat Katolik dan orang-orang dari agama lain di provinsi-provinsi pusat dari 1959 hingga 1975 ketika pertempuran sengit terjadi antara pasukan AS – yang didukung pasukan Vietnam selatan melawan pasukan komunis di daerah-daerah ini.

Imam Prancis, yang berbicara bahasa Vietnam dengan aksen Hue, mengatakan: “Saya cinta dan melihat Vietnam sebagai tanah air saya.” Misionaris berusia 86 tahun itu berhasil mengunjungi Keuskupan Agung Hue  tahun 1994 dan telah tinggal di sana sejak tahun 2000.

Selama pertemuan, para peserta merayakan Misa khusus untuk menandai ulang tahun imamat ke-60  Pastor Etcharren di Katedral Phu Cam. Sekitar 500 orang menghadiri upacara itu.

Para peserta juga mengunjungi situs-situs Buddhis dan Katolik termasuk makam imam Prancis Leopold Cadiere, seorang misionaris MEP yang ahli dalam budaya dan cerita rakyat Vietnam. Mereka juga menyaksikan pertunjukan budaya oleh para biarawati Lovers of the Holy Cross.

MEP dibentuk tahun  1658 untuk memperkenalkan misi Katolik ke Asia. Pendirinya adalah Pastor  Fransiskus  Pallu dan Pastor Lambert de la Motte, yang oleh Paus Alexander VII ditunjuk menjadi vikaris apostolik untuk dua vikariat pertama Vietnam, Dang Ngoai (Tonkin) dan Dang Trong (Cochin Cina),  tahun 1659.

Ribuan anggotanya ditugaskan  mendidik rohaniwan setempat, memberikan pelayanan pastoral bagi umat Katolik dan mengajar agama Katolik ke orang lain.

Banyak anggota mengalami penganiayaan agama yang parah oleh pihak berwenang Vietnam selama abad ke-17, 18 dan 19. Dua uskup dan delapan imam dari MEP berada di antara 117 martir Vietnam yang dikanonisasi oleh Santo Paus Yohanes Paulus II pada 19 Juni 1988.

 

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator