Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 36 mnt yang lalu

Apa simbol-simbol iman yang paling kuno itu?

Sel, 23/01/2018 - 20:35

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

33. Apa simbol-simbol iman itu?

Simbol-simbol iman adalah rumusan-rumusan yang diformulasikan, disebut juga ”pengakuan iman” atau ”syahadat”. Sejak awal mula berdirinya, Gereja merumuskan pengakuan iman ini secara sintetis dan mewariskannya dalam bahasa yang normatif dan umum bagi semua umat beriman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 185-188, 192, 197

34. Apa simbol-simbol iman yang paling kuno itu?

Simbol-simbol iman yang paling kuno ialah pengakuan iman pembaptisan karena diberikan ”atas nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Mat 28:19), pengakuan kebenaran-kebenaran iman dalam Sakramen Pembaptisan diformulasikan mengacu pada tiga Pribadi Tritunggal.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 189-191

35. Simbol-simbol iman apa yang paling penting?

Yang paling penting adalah Syahadat Para Rasul yang merupakan simbol pembaptisan kuno dari Gereja Roma dan Syahadat Nicea-Konstantinopel yang merupakan hasil dari dua Konsili ekumenis, yaitu Nicea (325 M) dan Konstantinopel (381 M); bahkan sampai sekarang, syahadat ini umum digunakan oleh semua Gereja besar di Timur dan Barat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 193-195

 

Setelah upacara perpisahan, Paus pulang ke Italia dan langsung ke Basilika Santa Maria Maggiore

Sel, 23/01/2018 - 18:38

Paus Fransiskus sudah tiba kembali di Vatikan setelah seminggu melakukan Kunjungan Apostolik ke Chili dan Peru. Dan seperti biasanya, segera setelah mendapat di Bandara Ciampino Roma, hari Senin 22 Januari pukul 14.15 waktu setempat, Paus segera berangkat ke Basilika Santa Maria Maggiore. Di sana Paus mengucapkan doa syukur di hadapan Patung Bunda Maria, Salus Populi Romani, seperti dikonfirmasi dalam sebuah tweet oleh direktur Kantor Pers Tahta Suci, Greg Burke.

Sebelum meninggalkan Peru, Paus Fransiskus mendesak rakyat Peru dalam upacara perpisahan di bandara untuk “mempertahankan pengharapan mereka.” Sebelum menaiki pesawat, Paus bertemu dengan Presiden Peru bersama istrinya.

Sebelumnya, setelah Misa di pangkalan udara Las Palmas di Lima, Bapa Suci, mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membuat perjalanannya memungkinkan. “Saya memulai ziarah saya di antara kalian dengan mengatakan bahwa Peru adalah tanah pengharapan. Sebuah tanah pengharapan karena keanekaragaman hayati dan keindahan alamnya, yang bisa membuat kita menemukan keberadaan Tuhan. Tanah pengharapan karena dari tradisi dan adat istiadatnya yang kaya, yang telah membentuk jiwa orang-orang ini. Tanah pengharapan bagi orang-orang mudanya, bukan kaum muda masa depan tapi juga kaum muda sekarang ini di Peru.”

Di depan sekitar 1,3 juta umat yang hadir dalam Misa itu, Paus Fransiskus kemudian mendorong orang-orang di negeri itu “untuk menemukan dalam kebijaksanaan kakek dan nenek mereka dan orang-orangtua mereka, DNA yang membimbing orang-orang kudus agung mereka.” Selain meminta mereka untuk tidak kehilangan akarnya, Paus mendorong mereka agar, “tidak takut menjadi orang-orang kudus abad XXI.”

Bapa Suci juga mengajak masyarakat Peru untuk “memelihara pengharapan kalian.” Menurut Paus, tidak ada cara yang lebih baik, untuk memelihara pengharapan mereka “daripada tetap bersatu, sehingga alasan-alasan pengharapan ini dapat tumbuh hari demi hari di hati-hati kalian.”

Kunjungan Paus Fransiskus ke Peru merupakan salah satu langkah perjalanannya ke Amerika Latin yang dimulai di Chili awal pekan ini.

Dalam konferensi pers di dalam pesawat saat penerbangan pulang ke Italia, Paus Fransiskus berbicara tentang kehangatan orang-orang di Chili dan Peru, serta membahas topik-topik beragam seperti pembelaannya terhadap seorang uskup yang dituduh menyaksikan pelecehan seksual, pernikahan dalam pesawat di udara yang dipimpinnya, dan kebijakan liberal beberapa pemerintah Amerika Selatan.(pcp berdasarkan beberapa berita Vatican News)

Di ujung rotan para guru ternyata ada emas, kata seorang anggota legislatif

Sen, 22/01/2018 - 23:19

 

Penyerahan tumpeng dari Kepsek SMA YPPK Yos Sudarso Merauke kepada alumni Yeremisa Moses Kaibu.

“Dulu, kalau saya malas ke sekolah, memaki sesama teman di sekolah, malas mengerjakan pekerjaan rumah, melawan guru, dan lain sebagainya, saya dirotan. Kita tekun belajar karena dipaksa, sehingga berhasil, ada yang menjadi guru dan ada yang menjadi anggota legislatif seperti saya,” kata Yeremias Moses Kaibu.

Alumni SMA Yos Sudarso Merauke itu berbicara dalam Pesta HUT ke-27 SMA YPPK Yos Sudarso, 15 Januari 2018, yang dirayakan dengan tema “Semangat Persaudaraan dan Kekeluargaan  demi Terlaksananya Pendidikan yang Berkualitas, Kreatif dan Berkarakter.” Acara itu juga dihadiri oleh 169 murid sekolah itu. YPPK adalah singkatan dari Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik.

Oleh karena itu, Yeremias berterima kasih karena “di ujung rotan ternyata ada emas,” dan berharap para penggantinya setiap tahun di sekolah itu “jangan malas, tetapi giat belajar” meski para guru di lembaga pendidikan yang didirikan Yayasan Katolik sebagai “tonggak peradaban di kawasan Selatan Papua” sekarang ini “tidak lagi merotan siswa bila siswa malas belajar.”

SMA YPPK Merauke dimulai tahun 1991 dan kini memasuki usia ke-27. Sebelumnya SMA itu bernama Sekolah Guru Atas (SGA), Sekolah Guru Bawah (SGB) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG), namun tetap dengan nama pelindung Komodor Yos Sudarso.

Salah satu acara dalam perayaan itu adalah Misa yang dipimpin Rektor Seminari Pastor Bonus Pastor Maternus Minarto Pr yang dalam homilinya berharap agar tenaga pendidik dan para siswa tetap bekerja keras dan giat, “sebab tahun baru mengartikan semangat baru dalam keluarga besar SMA YPPK Yos Sudarso.”

Sekretaris YPPK Johanes Faabumase berterima kasih karena masyarakat sendiri mempercayakan anaknya masuk sekolah itu, meski yayasan itu miskin dan terbatas, dan orang tua selalu protes kalau sekolah meminta uang, “padahal pendidikan itu sangat mahal.”

Menurut Kepala Sekolah SMA YPPK Yos Sudarso Petrus Ohoitimur, sekolah itu sudah melaksanakan Kurikulum K 13 dan di 2017 telah menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk aula sekolah serta bantuan beberapa unit komputer karena sudah berbasis komputer. SMA itu telah siap mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) sehingga tidak akan meminjam komputer lagi dari SMA Negeri I Merauke. “Padahal biasanya kami pinjam komputer untuk  UNBK,” katanya.

Beberapa prestasi telah juga tercapai di bidang seni, olah raga dan akademik, antara lain dalam lomba tarian, lomba lempar lembing, Lomba lempar cakram, dan menjadi finalis dalam lomba di LIPI.(Agapitus Batbual)

Mengapa iman Gereja itu hanya satu?

Sen, 22/01/2018 - 18:45
Salib Yesus dari Museum Boghese, Roma. PEN@ Katolik/paul c pati

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

31. Mengapa rumusan iman itu penting?

Rumusan iman itu penting karena dengannya orang beriman dapat mengungkapkan, menghayati, merayakan, dan saling berbagi kebenaran-kebenaran iman bersama dengan orang beriman lainnya melalui satu bahasa yang sama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 170-171

32. Mengapa iman Gereja itu hanya satu?

Gereja, walaupun terdiri dari banyak orang dari macam-macam bahasa, budaya, dan ritus, mengakui satu iman dalam kesatuan suara; iman yang diterima dari satu Allah dan diwariskan oleh satu Tradisi Apostolik. Gereja hanya mengakui satu Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dan menunjuk pada satu jalan keselamatan. Karena itu, kita percaya dengan satu hati dan satu jiwa semua yang terdapat dalam Sabda Allah, diwariskan langsung atau ditulis, dan diakui oleh Gereja sebagai wahyu ilahi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 172-175, 182

Paus dorong para uskup Peru agar menginjili dengan bahasa warga bahkan bahasa digital

Sen, 22/01/2018 - 15:16

Seraya mengambil Santo Turibus dari Mogrovejo sebagai contoh, Paus Fransiskus mendesak para uskup Peru untuk melakukan penginjilan dengan bahasa masyarakat sendiri, dan untuk mengupayakan kesatuan dan persekutuan.

Paus Fransiskus berbicara kepada para uskup Peru di hari terakhir Perjalanan Apostoliknya ke negara itu, 21 Januari 2017. Di hari itu, Paus menemui kaum religious pria dan wanita serta para biarawati kontemplatif, berdoa di depan relikui para orang kudus Peru dan berseru dalam  agar pemerintah Kongo menghindari kekerasan.

Ketika merenungkan kunjungannya, Paus mengatakan kunjungan bertema “persatuan dan pengharapan” itu “sangat intens dan memuaskan.” Juga dikatakan bahwa program itu “berat dan menantang, namun menggairahkan.”

Paus lalu mengajak para uskup untuk memikirkan pencapaian heroik Santo Turibius dari Mogrovejo, Uskup Agung Peru dan pelindung episkopat Amerika Latin, yang menjadi “teladan ‘pembangun persatuan gerejani’, seperti digambarkan oleh pendahulu saya, Santo Yohanes Paulus II saat Kunjungan Apostolik pertamanya ke negeri ini.”

Turibus memimpin Konsili Lima yang ketiga, yang telah memiliki Katekismus dalam bahasa-bahasa daerah. Menurut Bapa Suci, itulah contoh cara menginjili orang-orang Peru. Berbicara dengan bahasa ibu, lanjut Paus, memungkinkan ajaran Yesus masuk ke hati mereka. “Bahkan saat ini, para uskup dan penginjil diminta belajar bahasa baru, yang bagi kaum muda berarti bahasa digital.”

Ketika bersama-sama sekitar 500 suster kontemplatif dari berbagai ordo berdoa di Tempat Ziarah “Our Lord of Miracles” di Lima, Paus Fransiskus mengatakan kepada mereka bahwa kehidupan tertutup dapat memainkan “peran mendasar dalam kehidupan Gereja.”

“Kalian berdoa dan menjadi perantara doa banyak saudara-saudari yang menjadi tahanan, kaum migran, pengungsi dan korban penganiayaan. Doa-doa permohonan kalian, antara lain, mencakup doa untuk banyak keluarga yang mengalami kesulitan, para penganggur, orang miskin, orang sakit, dan mereka yang berjuang melawan kecanduan.”

Di hari yang sama, Paus Fransiskus juga berdoa di hadapan relikui-relikui para kudus yang paling dicintai bangsa itu. Bersama sekitar 2500 imam, kaum religius, frater, orang awam yang menjalani hidup bakti serta anggota gerakan gerejani, Paus berdoa di hadapan relikui-relikui Orang-Orang Kudus Peru di Katedral Santo Yohanes Rasul Lima.

Relikui-relikui Santo Martin de Porres, Santo Rose dari Lima, Santo Turibius dari Mogrovejo, dan Santo John Macias dibawa dari Biara Santo Domingo. Relikui-relikui Santo Fransiskus Solanus, yang diabadikan di Museum Keuskupan Agung Lima, juga dipamerkan di sana.

Kemudian sebelum Doa Angelus bersama umat beriman di Peru, hari itu, Paus memohon kepada pihak berwenang Kongo untuk menghindari segala bentuk kekerasan. “Saya minta kepada pihak berwajib, orang-orang yang bertanggung jawab dan semua orang di negara yang kita cintai ini agar menggunakan komitmen dan usaha maksimal untuk menghindari segala bentuk kekerasan dan mencari solusi yang menguntungkan kebaikan bersama,” kata Paus.

Seruan itu disampaikan karena polisi di Kongo membubarkan ribuan demonstran pada hari yang sama dengan menggunakan gas air mata dan tembakan sehingga menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai puluhan lainnya. Gereja Katolik di negara itu telah menyerukan demonstrasi damai, namun pemerintah melarang pawai itu.(pcp berdasarkan berita-berita Vatican News)

Paus mencela kekerasan terhadap perempuan dan minta orang Peru memandang Maria

Min, 21/01/2018 - 23:09

Ketika berbicara pada perayaan Maria “Our Lady of the Gate” (Perawan Maria Pintu Gerbang) di Trujillo, Peru, 20 Januari 2018, Paus Fransiskus mencela kekerasan terhadap perempuan, dan menyebut kekerasan itu sebagai “momok yang mempengaruhi benua Amerika,” dan mengingatkan umat beriman bahwa Perawan Maria tidak pernah meninggalkan anak-anaknya.

“Saya meminta kalian untuk melawan sumber penderitaan ini dengan meminta adanya undang-undang dan budaya yang menolak segala bentuk kekerasan,” kata Paus seraya mengatakan ada “banyak kasus di mana wanita dibunuh” dan jenis kekerasan ini tersembunyi “di balik banyak dinding.”

Paus Fransiskus lalu meminta orang Peru untuk memandang Perawan Maria, “Our Lady of the Gate,” dan selalu mengingat  bahwa “Maria adalah Ibu yang tidak meninggalkan anak-anaknya,” sebaliknya “terus membela dan menunjukkan kepada kita gerbang yang membuka jalan menuju kehidupan yang otentik, menuju Kehidupan yang tidak akan berhenti.”

Setiap komunitas di masing-masing sudut kecil di bumi, kata Paus, ditemani oleh wajah orang suci, dan oleh cinta akan Yesus Kristus dan akan ibu-Nya. “Jika kita menganggap di mana pun ada komunitas, di mana pun ada kehidupan dan kerinduan menemukan alasan untuk berharap, bernyanyi dan menari, kerinduan untuk kehidupan yang layak … di sana ada Tuhan, di sana kita menemukan ibu-Nya, dan di sana juga contoh teladan dari semua orang suci yang membantu kita untuk tetap bersukacita dalam pengharapan.”

Banyak gelar yang diberikan kepada Maria, bunda Yesus. Setiap komunitas di Peru, kata Paus, memiliki devosi khusus kepada Perawan Maria, yang menerima nama-nama berbeda. “Gelar-gelar itu mengekspresikan kerinduan Tuhan kita untuk dekat dengan setiap hati, sehingga bahasa cinta Tuhan selalu terucap dalam percakapan.”

Hal ini, lanjut Paus, menunjukkan perhatian Allah, yang “mencari cara terbaik untuk mendekati setiap orang, sehingga dia dapat menerima-Nya.”

“Semua gambar ini mengingatkan kita akan cinta lembut yang Tuhan gunakan karena ingin dekat dengan setiap desa dan setiap keluarga, dekat kalian dan dengan saya, dengan semua orang.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus dorong orang Peru untuk bersatu dalam solidaritas

Min, 21/01/2018 - 14:35

Ketika merayakan Misa di Dataran Huanchaco, tepat di luar kota pesisir Trujillo, daerah yang sering dilanda banjir dan badai yang disebabkan oleh fenomena El Nino, Paus Fransiskus mengajak orang-orang Peru untuk mengatasi kerugian mereka dan membangun masa depan yang lebih baik dengan bersatu bersama sebagai sebuah komunitas.

Linda Bordoni dari Vatican News melaporkan bahwa dalam homilinya Paus Fransiskus mengingat kembali banjir-banjir itu dan mengatakan “Sama seperti para rasul menghadapi badai di laut, kalian harus menghadapi beban “Niño costero.” Akibatnya yang menyakitkan masih tertinggal dalam begitu banyak keluarga, terutama mereka yang belum bisa membangun kembali rumah-rumah mereka.”

“Ini juga alasan mengapa saya ingin berada di sini dan untuk berdoa bersama kalian,” kata Paus, yang juga berbicara tentang “badai-badai” lain yang katanya bisa melanda pantai ini, dengan dampak buruk terhadap kehidupan anak-anak di sana.

Paus langsung berbicara tentang kekerasan terorganisir dan pembunuhan kontrak, masalah yang secara khusus sangat gawat di Peru utara. Paus mengecam ketidakamanan yang mereka pelihara.

Paus juga berbicara tentang “kurangnya kesempatan pendidikan dan kesempatan kerja, terutama di kalangan kaum muda, yang dia katakan, menghambat mereka untuk membangun masa depan dengan martabat,” dan menyebut kurangnya perumahan yang aman bagi begitu banyak keluarga yang dipaksa tinggal di daerah yang sangat tidak stabil tanpa akses yang aman.

Kepada yang hadir, Paus Fransiskus mengingatkan, “Kalian telah menunjukkan bahwa masalah terbesar dapat dihadapi kalau umat bersama-sama “saling membantu seperti saudara dan saudari sejati.”

“Saya tahu, di saat kegelapan, di saat kalian merasakan beban Niño, tanah-tanah ini terus menggerakkan minyak solidaritas dan kemurahan hati menggerakkan kalian untuk beraksi, dan kalian pergi menemui Tuhan” memohon bantuan, kata Paus.

Sering kita bertanya-tanya tentang bagaimana menghadapi badai ini, atau bagaimana membantu anak-anak kita melewati situasi ini. “Saya ingin mengatakan kepada kalian bahwa tidak ada cara yang lebih baik daripada Injil: Yesus Kristus. Isilah selalu kehidupan kalian dengan Injil,” kata Paus.

Francis mengakhiri homili dalam Misa di hari kedua kunjungan apostolik ke Peru itu dengan meminta berkat “Lady of the Gate” (Perawan Maria Pintu Gerbang) yang sangat dicintai orang Peru, yang tempat ziarahnya terletak sekitar tujuh puluh kilometer timur laut Trujillo.(pcp berdasarkan Catholic News)

Ikutlah Aku!

Min, 21/01/2018 - 00:11

Minggu Biasa ke-3

21 Januari 2018

Markus 1:14-20

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. (Mar 1:17)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Yesus memulai pelayanan publik-Nya dengan memanggil empat murid yang pertama untuk mengikuti Dia. Di Palestina zaman Yesus, untuk menjadi murid berarti mengikutinya ke mana pun sang guru pergi. Bahkan, kata-kata Yunani yang digunakan adalah “deute hopiso“, itu berarti “Ikutilah di belakangku” karena para murid benar-benar berjalan beberapa langkah di belakang Yesus, sang Guru. Tidak mengherankan, bahwa ketika empat murid pertama, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, dipanggil, mereka harus meninggalkan segala sesuatu, pekerjaan, keluarga dan kampung halaman. Jadi, untuk menjadi murid Yesus adalah sebuah komitmen radikal yang memerlukan pengorbanan besar.

Namun, jika kita mengaplikasikan kehidupan para murid pertama Yesus ke zaman kita, siapa di antara kita yang bisa mengikuti panggilan ini? Siapa di antara kita bersedia meninggalkan pekerjaan, keluarga dan tempat tinggal kita demi Kristus? Jawabannya tidak banyak. Hanya sedikit orang yang memasuki pertapaan atau biara. Bahkan, mereka yang sudah menjadi anggota kongregasi religius pun, diijinkan untuk tetap berhubungan dengan keluarga mereka. Saya sendiri sebagai seorang biarawan bisa berlibur setiap tahun dan mengunjungi keluarga saya di Bandung. Tampaknya kehidupan sebagai murid yang total tetap menjadi ideal yang jauh bagi kita.

Meskipun memang benar bahwa kehidupan seperti ini benar-benar sulit dan langka, namun kita percaya bahwa kehidupan murid sejati juga mungkin bagi kita semua. Injil mengatakan kepada kita bahwa murid pertama meninggalkan banyak hal, namun sebenarnya para murid juga membawa sesuatu bersama mereka ketika mereka memutuskan untuk berjalan dengan Yesus. Mereka sebenarnya membawa “diri mereka sendiri.” Di dalam totalitas pribadi ini ada karakter, pengetahuan, keterampilan, cita-cita, dan impian mereka. Singkatnya, mereka juga membawa serta profesi mereka, keluarga dan tanah air mereka. Inilah sebabnya mengapa Yesus tidak hanya memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk mengikut Dia, tetapi Dia juga akan menjadikan mereka “penjala manusia.” Yesus tahu bahwa orang-orang ini adalah salah satu nelayan terbaik di Galilea, dan sekarang Yesus mengundang mereka untuk mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki bagi Allah. Mengikuti Yesus tidak berarti meninggalkan segalanya, tetapi  mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.

Ketika Santo Dominikus de Guzman berkhotbah menentang ajaran sesat di Prancis Selatan, dia meninggalkan kenyamanan hidupnya di gereja di Osma, Spanyol. Namun, ketika dia berkhotbah, dia membawa semua keterampilan dan pengetahuan yang dia dapat sebagai kanon di Osma, dan sebagai mahasiswa di universitas Valencia. Dia meninggalkan segalanya, tetapi dia membawa semuanya saat dia mendirikan Ordo religius pertama yang didedikasikan untuk berkhotbah di Gereja. Sungguh sebuah paradoks!

Kita mungkin tidak dapat meninggalkan keluarga, profesi dan tempat tinggal kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan keluarga dan saudara-saudari kita, namun dengan semangat yang sama, kita dapat secara radikal mengikuti Yesus. Bagaimana? dengan mempersembahkan diri kita bagi Allah dan rencana-Nya. Sebagai orang tua, apa yang kita berikan kepada Tuhan, yang bisa mendidik anak-anak kita dan membangun keluarga Kristiani yang baik? Sebagai bagian dari Gereja, apa yang kita serahkan kepada Yesus, yang dapat membantu pertumbuhan Gereja di dunia ini? Sebagai anggota masyarakat, apa yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang dapat memberikan kontribusi pada masyarakat yang adil dan makmur?

 

 

Paus kepada anak-anak Peru: “Jadilah bintang-bintang kecil yang menerangi malam hari”

Sab, 20/01/2018 - 15:49

Ketika berbicara di sebuah panti anak-anak tanpa keluarga di Puerto Maldonado, Peru, Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang muda adalah cerminan Anak Yesus dan mengajak mereka untuk menjadi “sinar pengharapan” bagi dunia.

Paus Fransiskus mengadakan perjumpaan dengan anak-anak itu di tempat tinggal mereka Panti “The Little Prince” (Pangeran Kecil), 19 Januari 2018 seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News. Saat itu Paus mengatakan kepada mereka, “Jadilah ‘bintang-bintang kecil yang menerangi malam.” Apa yang dikatakan Paus itu berasal dari cerita yang digunakan sebagai nama panti itu.

Bapa Suci juga mengajak anak-anak yang telah melewati Panti “The Little Prince” itu untuk menjadi terang pengharapan bagi yang sekarang tinggal di sana. “Betapa indahnya kesaksian kalian semua kaum muda yang pernah melewati jalan ini, yang menemukan cinta di panti ini dan sekarang bisa membentuk masa depan kalian sendiri!” Menurut Paus, teladan mereka sebagai model teladan positif adalah kesaksian terbaik bagi anak-anak di panti itu. Paus pun mengajak mereka berkunjung sesering mungkin.

Paus mengatakan kepada anak-anak itu bahwa mereka adalah cerminan Anak Yesus. “Dialah kekayaan kita. Kalian anak-anak adalah cerminan-Nya, dan kalian juga merupakan kekayaan kita semua, kekayaan paling berharga yang kita miliki, dan kita dipanggil untuk menjaga kekayaan itu.”

Paus lalu meminta maaf kepada anak-anak itu atas “saat-saat ketika kita orang dewasa tidak memperhatikan kalian.” Bapa Suci mengatakan senang melihat ada panti untuk anak-anak dan ada orang-orang yang membantu mereka melihat bahwa Tuhan “menempatkan mimpi di dalam hati kalian.”

Paus juga mengajak anak-anak, beberapa di antaranya berasal dari masyarakat adat, untuk belajar dan memanfaatkan kesempatan pendidikan. “Dunia membutuhkan kalian,” kata Paus yang juga mengajak mereka berhubungan dengan akar mereka namun tidak mengekang keingintahuan mereka. “Satukan yang lama dengan yang baru. Bagikan apa yang kalian pelajari dari dunia ini,” kata Paus.

Akhirnya, Paus berterima kasih kepada direktur panti itu, Pastor Xavier, dan semua yang memberikan waktu mereka untuk memperbaiki kehidupan anak-anak itu. “Dan terima kasih, karena menjadi bintang-bintang kecil yang menyinari malam hari,” kata Paus Fransiskus.

Orang Muda, kerusakan lingkungan dan korupsi

Ketika berbicara tentang kaum muda di tempat terpisah, Paus Fransiskus menegaskan bahwa kaum muda Peru adalah hadiah paling vital yang dimiliki bangsa itu. “Mereka mendorong kami untuk memimpikan masa depan penuh pengharapan,” kata Paus yang menggarisbawahi, “di atas pengharapan ini bertumbuh bayangan tumbuh, ada bayang-bayang ancaman.”

“Disatukan dengan Pengharapan” adalah tema kunjungan Paus Fransiskus ke Peru. Maka, dalam pertemuan dengan pihak yang berwenang di Lima itu, Paus meminta mereka berupaya mempertahankan pengharapan dalam menghadapi kerusakan lingkungan dan korupsi.

Paus berbicara tentang umat manusia “yang sedang melucuti bumi dari sumber alaminya, padahal tanpa sumber alam tidak akan ada bentuk kehidupan.” Hilangnya hutan dan hutan, lanjut Paus, “tidak hanya berarti hilangnya spesies, yang juga bisa menjadi sumber daya teramat penting bagi masa depan, tapi juga hilangnya hubungan vital yang bisa berakhir dengan berubahnya keseluruhan ekosistem.”

Dalam konteks ini, Paus menekankan “menyatu dalam mempertahankan pengharapan” berarti meningkatkan dan mengembangkan ekologi integral sebagai alternatif bagi “model pembangunan yang ketinggalan zaman … “

Bekerja sama mempertahankan pengharapan, kata Paus, “menuntut agar kita tetap memperhatikan dengan seksama bentuk degradasi lingkungan yang lain dan sering licik, yang semakin mencemari keseluruhan sistem kehidupan: korupsi.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Mgr Rubiyatmoko ajak anak-anak jadi saksi Tuhan dengan hidup sehat, suci, rajin dan bergaul

Sab, 20/01/2018 - 04:34

Mengapa  anak-anak bangga menjadi anak Katolik. “Karena ada tanda salib!” jawab Nitam. “Karena Tuhan menyayangiku!” tegas Leoni.  Bagaimana menjadi pewarta kabar gembira? “Dengan membaca Kitab Suci untuk kemudian dikabarkan pada umat,” Rensa menimpali.

Setelah pertanyaan-pertanyaannya dijawab oleh anak-anak, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko membenarkan jawaban-jawaban itu dan menegaskan bahwa “semua anak-anak Katolik dipanggil menjadi anak-anak yang baik,  dipanggil untuk menjalani tugas perutusan, tugas misioner, diutus untuk menjadi pewarta-pewarta Tuhan, pewarta warta kabar kegembiraan.”

Lebih daripada itu, sebanyak 7633 anak dan remaja dari 69 paroki dan 348 pendamping PIA-PIR se-Keuskupan Agung Semarang diajak oleh Mgr Rubi untuk menjadi saksi-saksi Tuhan dengan cara khas anak-anak yaitu dengan 4S: sehat, suci, sregep (rajin), dan srawung (bergaul).

Menurut Mgr Rubi, hidup sehat dimulai dari sekarang, misalnya dengan banyak makan dan suka sayur-sayuran. “Hidup sehat, juga dilakukan dengan tidak mencemari tubuh dengan narkoba, rokok, atau minum-minuman keras. Hindarkan itu semua. Ini cara kita untuk menjadi pewarta kebahagiaan,” kata Mgr Rubi.

Tentang hidup suci, Mgr Rubi mengajak anak-anak untuk berdoa setiap hari dan rajin membaca Kitab Suci. Tentang sregep, Mgr Rubi berharap, anak-anak rajin mengikuti berbagai kegiatan positif entah di rumah, sekolah lingkungan maupun Gereja. Tentang srawung, Mgr Rubi berharap, anak-anak mau bergaul dengan siapa pun tanpa pilih-pilih.

Srawung artinya bergaul dengan siapa saja. Tidak pilih-pilih. Berani bergaul dengan teman-teman yang beragama apapun. Ini menjadi salah satu tantangan kita. Inilah cara kita menjadi anak-anak Tuhan, menjadi anak-anak Katolik yang baik,” kata Mgr Rubi.

Uskup Agung Semarang berbicara dengan anak-anak dan remaja pada Misa Hari Anak Misioner Sedunia ke-175 di lapangan Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, 7 Januari 2018.

Seperti tiga raja dari timur yang datang mencari Yesus, Sang Raja Diraja dengan melihat bintang, Mgr Rubi berharap, anak-anak pun selalu melihat Yesus sebagai Bintang Kehidupan. “Walaupun nanti dalam perjalanan ada kesulitan-kesulitan hidup, kita selalu melihat Sang Bintang. Kita persembahkan hidup kita yang terbaik. Mudah-mudahan dengan acara ini, kita bisa tetap bersatu dengan Yesus dan kita menjadi anak-anak Tuhan yang baik, yang bisa memberi warta suka cita bagi orang lain.”

Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia Pastor Markus Nurwidi Pranoto Pr lalu mengajak Anak-Anak Misioner, Anak-Anak Sekami, Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner untuk membawa semboyan ‘Children Helping Children’ (anak membantu) melakukan tindakan konkret “2D 2K” (doa, derma, kurban, dan kesaksian).

“Dengan emat tindakan itulah kita akan bermisi, kita menjadi anak-anak misioner, kita mengembangkan dan mewujudkan pewartaan akan Yesus Tuhan Sang Juru Selamat dunia,” seru imam itu dalam acara yang diakhiri dengan pentas drama anak-anak Paroki Cawas, Klaten, tentang menjaga Indonesia.(Lukas Awi Tristanto)

 

Paus Fransiskus minta agar hak dan tanah penduduk asli Amazonia dibela

Sab, 20/01/2018 - 02:21

Dalam kunjungan ke Peru, 19 Januari 2018, Paus Fransiskus memberikan sambutan kepada sekitar 4.000 perwakilan masyarakat adat Lembah Sungai Amazon (Amazonia) dengan menempatkan persoalan mereka ke dalam hati Gereja, seraya membagikan tantangan mereka dan menegaskan kembali kehendak tulus untuk membela kehidupan, bumi dan budaya.

“Kalian adalah kenangan misi yang hidup, yang dipercayakan Tuhan kepada kita semua: perlindungan atas rumah bersama kita,” kata Paus kepada penduduk asli Amazonia yang berkumpul di stadion indoor Madre de Dios di Puerto Maldonado, sekitar 900 km sebelah timur Lima (ibu kota Peru), seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Paus Fransiskus memilih datang ke daerah pedalaman di Hutan Hujan Amazon di Peru, yang dikenal dengan keanekaragaman hayati, guna mengangkat permasalahan masyarakat adat. Sebagai isyarat simbolis, Paus menyerahkan kepada mereka buku ensiklik tentang lingkungan hidup “Laudato Si” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lokal mereka.

Menghargai Amazonia sebagai tanah yang kudus, Paus mengingatkan kembali kata-kata Tuhan kepada Musa: “Tanggalkan kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

Paus mengatakan, orang-orang Amazonia mungkin paling terancam saat ini, dengan adanya kepentingan-kepentingan bisnis besar yang mengincar minyak, gas, kayu, emas dan bentuk-bentuk monokultivasi agroindustri, serta kebijakan-kebijakan “konservasi” tertentu yang sudah diputar-balikkan menyangkut alam habitat mereka yang diperebutkan.

Melihat persoalan-persoalan ini mencekik penduduk asli dan memprovokasi migrasi kaum muda karena kurangnya alternatif lokal, Paus minta agar dipecahkan paradigma sejarah yang menganggap Amazonia sebagai sumber persediaan yang tak habis-habisnya untuk negara lain tanpa mempedulikan penghuninya.

Bapa Suci meminta penghormatan, pengakuan dan dialog dengan kelompok-kelompok pribumi, seraya mengakui dan memulihkan budaya, bahasa, tradisi, hak dan spiritualitas asli mereka. Dan dalam dialog tentang tanah mereka, kata Paus, penduduk asli sendiri harus menjadi mitra utama, dan sumber-sumber daya yang dihasilkan oleh praktik-praktik konservasi harus menguntungkan komunitas-komunitas mereka.

Paus Fransiskus mengecam penambangan liar yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Paus juga mengutuk kerja paksa dan pelecehan seksual, terutama kekerasan terhadap remaja dan terhadap perempuan.

Paus Fransiskus juga meminta pembelaan dan perlindungan terhadap sekitar 64 kelompok masyarakat adat Ekuador, Peru, Brasil dan Bolivia yang secara sukarela memilih hidup lebih dalam di Amazonia sebelum menghadapi kepunahan akibat perambahan dari dunia yang beradab.

Paus Fransiskus meminta pembelaan terhadap keluarga yang membuat budaya tetap hidup melawan bentuk ideologis kolonialisme. “Hilangnya budaya bisa sama serius, atau bahkan lebih serius, daripada hilangnya spesies tumbuhan atau hewan,” kata Paus.

Dalam hal ini, Bapa Suci mendorong adanya pendidikan yang tidak menghapus tradisi-tradisi dan bahasa-bahasa adat serta kearifan leluhur.

Paus memuji upaya-upaya yang dilakukan untuk itu, dan mendesak penduduk asli Amazonia untuk membantu membentuk Gereja dengan wajah orang Amazonia, Gereja dengan wajah asli, yang merupakan alasan Paus untuk membuat Sinode untuk Amazonia tahun 2019. (pcp berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus menyalami seorang wakil masyarakat adat di Puerto Maldonado, Peru, 19 Januari 2018. Foto: Alessandra Tarantino, AP Warga adat Amazon sedang mendengarkan sambutan Paus Fransiskus. Foto: Alessandra Tarantino, AP Paus Fransiskus menyalami seorang wakil masyarakat adat di Puerto Maldonado, Peru, 19 Januari 2018. Foto: Alessandra Tarantino, AP Paus diterima oleh warga adat Amazon

Mengapa tidak ada kontradiksi antara iman dan ilmu?

Jum, 19/01/2018 - 18:40

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

29. Mengapa tidak ada kontradiksi antara iman dan ilmu?

Walaupun iman itu mengatasi akal budi, tidak pernah ada kontradiksi antara iman dan ilmu karena kedua-duanya berasal dari Allah. Allah sendirilah yang memberikan, baik terang akal budi maupun terang iman kepada kita.

”Aku percaya untuk mengerti,

dan aku mengerti untuk percaya lebih baik”

(Santo Agustinus)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 159

30. Mengapa iman itu tindakan pribadi dan sekaligus gerejawi?

Iman adalah tindakan pribadi sejauh menjadi jawaban bebas pribadi manusiawi kepada Allah yang mewahyukan Diri-Nya. Tetapi, sekaligus merupakan tindakan gerejawi yang mengungkapkan dirinya dalam pengakuan ”Kami percaya”. Kenyataannya, Gerejalah yang percaya, dan dengan rahmat Roh Kudus, Gereja mendahului, memunculkan, dan memperkembangkan iman setiap orang Kristen. Karena alasan inilah Gereja adalah Bunda dan Guru.

”Tak seorang pun dapat mempunyai Allah sebagai Bapa

jika tidak mempunyai Gereja sebagai Bunda”

(Santo Siprianus)

 Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 166-169, 181

Pertobatan dan krisis kasih sayang dalam keluarga ditampilkan anak-anak panti Santa Angela

Jum, 19/01/2018 - 01:34
Anak-anak Panti Asuhan Santa Angela Delitua mempersembahkan lagu pada pagelaran drama ”Anak yang Hilang” (Foto K R Mangu)

Karena tak suka dengan suasana rumah dan kurang mendapat perhatian ayah, Markus tinggalkan rumah lalu mulai akrab dengan pemerasan, perampokan, minum, mabuk, dan bergaul dengan penjahat. Namun, ketika menyaksikan seorang gadis dirampok oleh penjambret lain, Markus merasa kasihan dan datang menyelamatkan tas milik gadis bernama Cindy itu. Lebih dari itu, Markus mengantar Cindy pulang dan hubungan mereka berlanjut.

Kisah “Anak yang Hilang” itu terjadi di Jakarta Selatan, tepatnya di Gedung Usmar Ismail, Jalan Rasuna Said, Sabtu 6 Januari 2018. Kisah itu dipentaskan oleh sebanyak 30 anak Panti Asuhan Santa Angela Delitua, Sumatera Utara, yang bersekolah di SD, SMP, SMA dan SMK milik Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth (FSE) di Delitua.

Tujuan penampilan drama, yang merupakan kolaborasi antara teater KataK, teater Efford (Jakarta) dan Teater Santa Angela, menurut pemimpin panti Suster Bernadette Saragih FSE, adalah untuk mengembangkan bakat atau talenta, kemandirian, dan kepribadian anak, khususnya dalam bidang seni suara dan teater.

Selain memberi pengalaman luar biasa sebagai bekal bagi anak-anak panti ini melanjutkan hidup mereka setelah lepas dari naungan panti kelak, pementasan itu juga untuk mengetuk pintu hati dalam membantu mendukung anak-anak panti itu menyongsong masa depannya yang mandiri, berkualitas, dan mampu membantu sesama yang juga membutuhkan bantuan sebagaimana mereka sekarang ini.

Kisah “Anak yang Hilang” seperti dijelaskan sutradara Venantius Vladimir Ivan. diadopsi dari kisah Injil dan diaktualkan sesuai dengan pengalaman hidup sehari-hari sehingga memiliki pesan yang baik.

Cindy, yang telah ditinggal meninggal oleh ayahnya, senang mendapatkan perhatian dari Markus, karena ibunya sendiri tidak memberikan perhatian kepada Cindy dan kurang dekat dengan Cindy. Ibunya bahkan sudah lama akrab dengan obat terlarang, dan sering membawa laki-laki berbeda ke rumah.

Akhirnya ibunya meninggal dunia akibat kanker, di saat Cindy tidak berada di rumah. Markus dan sejumlah teman ibunya sudah berada di rumah, ketika Cindy datang. Cindy pun menangis sejadi-jadinya. Ia sangat menyesal tidak berdamai dengan ibunya.

Kehidupan Markus semakin berubah setelah berkenalan dengan Cindy. Suatu ketika ia teringat akan ayahnya yang telah tua renta. Setelah ibu Cindy meninggal, Markus membawa Cindy ke tanah kelahirannya untuk menikahi Cindy. Ayahnya dengan suka cita menanti kehadiran anaknya yang telah “hilang” itu.

‘’Cerita ini memiliki pesan moral yang sangat penting yakni pertobatan dan krisis kasih sayang dalam kehidupan keluarga. Cerita ini dibuat dengan modifikasi sehingga pesan yang disampaikan kepada penonton menjadi bahan untuk direfleksikan,” kata Vinantius Vladimir usai pementasan drama selama kurang lebih tiga jam itu.

Alvina Dumingan, pemeran Cindy, sangat senang memerankan gadis yang akhirnya menikah dengan Markus. Dikatakan, pementasan kali ini sangat menantang karena mereka berusaha menguasai dialog dalam pentas juga kemampuan vokal untuk menyanyi. (Konradus R Mangu)

Suster Bernadette Saragih FSE (foto K R Mangu)

Presiden Jokowi terima surat kepercayaan sembilan duta besar negara sahabat termasuk Vatikan

Kam, 18/01/2018 - 23:05
Foto-foto dalam berita ini berasal dari Biro Pers Setpres

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima surat kepercayaan dari sembilan duta besar luar biasa dan berkuasa penuh (LBPP) dari negara sahabat yang berkedudukan di dalam (designate resident) negara Indonesia. Penyerahan surat kepercayaan itu digelar di ruang kredensial, Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 17 Januari 2018.

Berdasarkan rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, seperti dilaporkan hari ini 18 Januari 2018 oleh Humas Kemensetneg, penyerahan surat kepercayaan itu menandai dimulainya penugasan resmi dari para duta besar itu di Indonesia.

Selain Duta Besar LBBP Designate Resident Tahta Suci Vatikan untuk Republik Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo, duta besar negara sahabat lain diterima Presiden Joko Widodo adalah Valery Kolesnik dari Republik Belarus, Dr Zuhair Al-Shun dari Palestina, Prof Admasu Tsegaye Agidew dari Ethiopia, Xiao Qian dari Tiongkok, Mona El Tannir dari Lebanon, Dr Abdulghani Nassr Ali Al-Shamiri dari Yaman, Armando Gonzalo Alvarez Reina dari Meksiko, dan Dr Hilton Fisher dari Afrika Selatan.

Penyerahan surat kepercayaan duta besar negara sahabat dimulai dengan prosesi kedatangan di halaman depan Istana Merdeka yang dipimpin langsung oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dengan membawa bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan sembilan negara sahabat secara bergantian.

Usai prosesi, jelas Humas Kemensetneg itu, secara bertahap para duta besar menuju ruang tunggu Istana Merdeka guna mengisi buku tamu sebelum menuju ruang kredensial untuk menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Joko Widodo.

Setelahnya, para duta besar langsung diarahkan menuju ruang resepsi guna beramah-tamah sebelum secara bergiliran berbincang sejenak selama kurang lebih lima menit dengan Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi di teras belakang Istana Merdeka.

Mgr Piero Pioppo sudah tiba di Jakarta 14 November 2017 dijemput oleh Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo, Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Wakil Ketua I KWI Mgr Leo Laba Ladjar OFM, Wakil Ketua II Mgr Yustinus Harjosusanto MSF dan Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Siprianus Hormat Pr.

Uskup Agung Titular Torcello itu diangkat oleh Paus Fransiskus menjadi Nuntius Apostolik atau Duta Vatikan di Indonesia tanggal 8 September 2017, ketika bertugas sebagai Duta Vatikan untuk Kamerun dan Guinea Khatulistiwa.

Uskup Agung berusia 56 tahun yang lahir di Savona 29 September 1960 itu menggantikan Mgr Antonio Guido Filipazzi yang sejak 26 April 2017 diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai Duta Vatikan untuk Nigeria.  Mgr Piero Pioppo yang ditahbiskan imam di Italia 29 Juni 1985 dan ditahbiskan uskup di Basilika Santo Petrus, Vatikan, 18 Maret 2010.(paul c pati)

Apa ciri-ciri iman?

Kam, 18/01/2018 - 20:36
Pintu Basilika Santa Sabina. PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

27. Apa artinya percaya kepada Allah bagi seseorang dalam praktek hidupnya?

Artinya, setia kepada Allah, mempercayakan hidup kepada-Nya, dan mengamini semua kebenaran yang diwahyukan Allah karena Allah adalah Kebenaran. Ini berarti percaya kepada satu Allah dalam tiga Pribadi, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 150-152, 176-178

28. Apa ciri-ciri iman?

Iman adalah keutamaan adikodrati yang mutlak perlu bagi keselamatan. Iman adalah anugerah cuma-cuma dari Allah dan tersedia bagi semua orang yang dengan rendah hati mencarinya. Tindakan iman adalah tindakan manusiawi, yaitu tindakan dari intelek manusia – terdorong oleh kehendak yang digerakkan oleh Allah – yang dengan bebas mengamini kebenaran ilahi. Iman juga pasti karena mempunyai dasar pada Sabda Allah, iman bekerja ”oleh kasih” (Gal 5:6); dan iman berkembang terus-menerus dengan mendengarkan Sabda Allah dan doa. Dengan iman, bahkan sekarang ini juga, orang mencecap kegembiraan surga.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 153-165, 179-180, 183-184

Pintu Basilika Santa Sabina, Roma

Paus Fransiskus mengajak masyarakat adat untuk menjadi perajin persatuan

Kam, 18/01/2018 - 17:40

Dalam homili Misa hari Rabu, 17 Januari 2017, di Temuco, tanah leluhur masyarakat adat Mapuche, Chili, Paus Fransiskus mengajak masyarakat adat Chili untuk mengupayakan persatuan seperti dikatakan Yesus: “Supaya mereka semua menjadi satu (Yoh 17:21).”

Paus juga berbicara tentang keindahan wilayah Araucania yang dihuni masyarakat adat Mapuche, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang mengizinkannya mengunjungi tempat itu dan menemui orang-orangnya. “Pemandangan ini membawa kita sampai kepada Tuhan, dan mudahlah melihat tangan-Nya di setiap makhluk. Banyak generasi pria dan wanita mencintai tanah ini dengan penuh syukur,” kata Paus.

Setelah berhenti sejenak Paus secara khusus menyalami anggota-anggota masyarakat adat Mapuche, dan juga masyarakat adat lainnya yang tinggal di negeri selatan itu yakni Rapanui (dari Pulau Paskah), Aymara, Quechua dan Atacameños, dan banyak lagi yang lain. Mereka, lanjut Paus, merayakan Ekaristi dalam suasana syukur tapi juga “sedih dan duka.”

“Kami merayakannya di Aredrome (tempat pesawat mendarat atau lepas landas) Maqueue ini, yang merupakan lokasi terjadinya pelanggaran berat hak asasi manusia. Kami mempersembahkan Misa ini untuk semua orang yang menderita dan meninggal, dan bagi mereka yang setiap hari menanggung beban dari banyak ketidakadilan itu. Pengorbanan Yesus di kayu salib menanggung semua dosa dan penderitaan bangsa kita, guna menebusnya,” kata Paus.

Kemudian Paus memperingatkan dua godaan yakni persatuan dengan keseragaman yang membingungkan dan persatuan melalui kekerasan yang  memaksakan. “Yesus tidak meminta kepada Bapa-Nya supaya semua sama atau serupa, karena persatuan tidak dimaksudkan untuk menetralisir atau membungkam perbedaan.”

Persatuan, kata Paus, “bukanlah hasil integrasi paksa; persatuan bukanlah kerukunan yang dibeli dengan mengesampingkan beberapa orang.” Persatuan yang ditawarkan dan dicari Yesus termasuk semua budaya, dan mengakui sumbangan-sumbangan unik mereka “bagi negeri yang penuh berkat ini.”

“Persatuan adalah keragaman yang diselesaikan perbedaannya, karena tak akan membiarkan kesalahan pribadi atau komunitas diperbuat atas namanya,” kata Paus.

Paus Fransiskus juga berbicara tentang dua jenis kekerasan yang mengancam persatuan. “Pertama, kita harus waspada terhadap kesepakatan-kesepakatan ‘indah’ yang tidak akan pernah dilaksanakan.” Kekerasan seperti itu, kata Paus, “menghalangi harapan.”

Kedua, tegas Paus Fransiskus, “budaya saling menghargai tidak boleh didasarkan pada aksi-aksi kekerasan dan penghancuran yang berakhir dengan mengambil nyawa manusia.”

Kedua godaan untuk bersatu melalui kekerasan, menurut Paus, “seperti lahar gunung berapi yang menghapus dan membakar segala sesuatu yang ada di jalannya, seraya meninggalkan di situ keruntuhan dan kebinasaan semata.”

Jalan yang benar menuju persatuan, kata Paus, terletak pada “gaya aktif non-kekerasan, sebagai gaya politik untuk perdamaian.’”

Akhirnya, Paus mengajak masyarakat adat Chili untuk berdoa kepada Bapa bersama Yesus, “semoga kita juga menjadi satu; menjadi perajin persatuan.”(pcp berdasarkan Vatican News)

 

 

 

Paus Fransiskus memperingatkan para uskup Chili untuk menentang godaan klerikalisme

Kam, 18/01/2018 - 03:31

Ketika bertemu dengan sekitar 50 uskup dari seluruh penjuru Chili yang dipimpin oleh Presiden Konferensi Waligereja Chili Uskup Agung Santiago Mgr Silva Retamales di Katedral Santiago, Paus Fransiskus meminta mereka agar waspada terhadap godaan klerikalisme.

Dalam perjumpaan itu, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, Paus mengenang kunjungan ad limina para uskup itu di Vatikan sekitar setahun yang lalu dan mengatakan bahwa dia ingin mengulangi beberapa poin yang dibuat dalam pertemuan di Roma itu.

Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat saat ini, kata Paus, adalah rasa menjadi yatim piatu, perasaan tidak menjadi milik siapapun.” Itulah perasaan “postmodern,” yang bisa meresap dalam diri kita dan dalam klerus kita, yang membuat kita berpikir kita bukan milik siapa pun. “Kita lupa bahwa kita adalah bagian dari umat yang kudus dan setia dari Allah dan bahwa Gereja tidak, juga tidak akan pernah menjadi kelompok élite para pria dan wanita hidup bakti, para imam dan para uskup.”

Tanpa kesadaran menjadi milik umat Allah sebagai pelayan, bukan tuan, kata Paus, “kita dapat masuk ke dalam pencobaan, yang paling merusak bagi pelayanan misi yang seharusnya kita tingkatkan sesuai panggilan kita, yakni klerikalisme.”

Kegagalan menyadari misi sebagai milik seluruh Gereja, dan bukan milik perorangan seorang imam atau uskup, kata Paus, membatasi cakrawala, dan bahkan lebih buruk lagi, memadamkan semua prakarsa yang mungkin sedang bangkit di tengah-tengah kita.

Lebih jauh Paus Fransiskus mengingatkan para uskup bahwa “orang awam bukanlah prajurit-prajurit kita, atau pegawai-pegawai kita” dan mengatakan bahwa “klerikalisme secara bertahap memadamkan api kenabian di mana seluruh Gereja dipanggil untuk bersaksi.”

Paus benar-benar mengajak semua yang hadir untuk mewaspadai godaan itu, terutama di seminari-seminari dan sepanjang proses formasi.

Selanjutnya Paus memohon kepada Roh Kudus untuk menerima “karunia bermimpi dan berkarya bagi opsi misi dan kenabian yang mampu mengubah segalanya, sehingga kebiasaan kami, cara melakukan sesuatu, waktu dan jadwal, bahasa dan struktur gerejawi bisa tersalur dengan benar bagi evangelisasi Chili bukan untuk mendapat perlindungan diri dari gereja.”

“Janganlah takut melepaskan diri dari segala sesuatu yang memisahkan kita dari mandat misi,” Paus Fransiskus mengakhiri, (pcp berdasarkan Vatican News)

 

Siapa saksi-saksi utama ketaatan iman dalam Kitab Suci?

Rab, 17/01/2018 - 19:33
Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

25. Bagaimana manusia menjawab Allah yang mewahyukan Diri-Nya?

Dengan bantuan rahmat ilahi, kita menjawab Allah dengan ketaatan iman, yang berarti penyerahan diri kita kepada Allah secara penuh dan menerima kebenaran-Nya sebagaimana dijamin oleh Dia, sang Kebenaran sejati.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 142-143

26. Siapa saksi-saksi utama ketaatan iman dalam Kitab Suci?

Ada banyak saksi-saksi macam itu, secara khusus kita melihat dua. Yang pertama, Abraham, ketika mengalami ujian, dia tetap ”percaya kepada Allah” (Rom 4:3) dan selalu taat kepada panggilan-Nya. Karena itulah Abraham disebut ”Bapa kaum beriman” (Rom 4:11.18). Contoh yang kedua, Santa Perawan Maria yang seluruh hidupnya menjadi kesaksian sempurna ketaatan iman: ”Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 144-149

Paus Fransiskus di Chili: Sabda Bahagia lahir dari hati Yesus yang penyayang

Rab, 17/01/2018 - 05:15

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu …” Paus Fransiskus mengambil kata-kata pertama dari Injil tentang Khotbah di Bukit itu untuk mengawali homili pertama dalam Kunjungan Apostolik di Chili dalam Misa untuk Keadilan dan Perdamaian di Taman O’Higgins di Santiago.

Cinta Tuhan yang mendalam terbangun bukan karena “gagasan-gagasan atau konsep-konsep, tetapi karena wajah-wajah, orang-orang,” kata Paus seraya menegaskan bahwa “perjumpaan dengan orang-oranglah yang menyebabkan Sabda Bahagia itu diungkapkan.”

Paus Fransiskus telah tiba di Chili tanggal 16 Januari 2018 untuk memulai perjalanan Apostolik selama seminggu yang akan membawanya ke enam kota di Chili dan Peru. Pada kunjungan apostolik keenam di Amerika Latin itu, Paus dijemput di Bandara Internasional Santiago oleh Presiden Chili, Michelle Bachelet, dan Presiden konferensi waligereja negara itu.

Sabda Bahagia bukanlah “buah ketidakpedulian melihat kenyataan, atau sekedar penonton yang mengumpulkan statistik suram” melainkan “terlahir dari hati Yesus yang penyayang, yang menjumpai hati para pria dan wanita yang mencari dan mendambakan kehidupan bahagia,” kata Paus.

Orang Chili tahu apa artinya merindukan kebahagiaan, tahu apa artinya menderita dan jatuh, tapi juga bangun lagi “setelah begitu banyak jatuh,” kata Paus seraya menegaskan bahwa Sabda Bahagia “bukanlah buah dari sikap kritis atau ‘kata-kata murahan’ dari mereka yang mengira tahu semuanya namun tidak mau berkomitmen pada apapun atau siapapun, dan akhirnya menghalangi kesempatan untuk menghasilkan proses perubahan dan rekonstruksi di masyarakat kita dan dalam kehidupan kita.”

Sebaliknya, lanjut Bapa Suci, Sabda Bahagia “lahir dari hati yang penuh belas kasih yang tidak pernah kehilangan harapan” dan dengan Sabda Bahagia itu “Yesus mengatakan kepada kita ‘Berbahagialah kamu yang mengupayakan rekonsiliasi’.” Sementara ‘Berbahagialah orang yang membawa damai’ dalam Sabda Bahagia itu, menurut Paus, meminta kita “untuk menyiapkan tempat lebih besar bagi semangat rekonsiliasi di tengah kita.”

Ketika berbicara kepada para anggota pemerintahan, korps diplomatik, dan otoritas sipil di Chili, Paus Fransiskus menegaskan bahwa mereka adalah bangsa yang telah tumbuh dan berkembang, namun jangan melupakan orang-orang yang menderita ketidakadilan.

Setiap generasi baru, tegas Paus, harus menerima perjuangan dan hasil karya generasi masa lalu. “Kebaikan, dan juga cinta, keadilan dan solidaritas, tak tercapai satu kali dan selamanya. Mereka harus diwujudkan setiap hari,” kata Bapa Suci seraya menambahkan bahwa tidak ada tempat untuk berpuas diri saat banyak orang masih menderita ketidakadilan.

Paus juga mengajak para penguasa untuk menjadi bangsa yang mendengarkan rakyatnya. “Chili perlu mendengarkan para penganggur, kaum migran, penduduk pribumi yang sering dilupakan, orang-orang muda dan orang-orang tua “yang memiliki banyak kebijaksanaan.”

Terdengar tepuk tangan membahana saat Paus mengatakan “rasa sakit dan rasa malu dengan kerusakan yang tidak dapat disembuhkan, yang diperbuat kepada anak-anak oleh beberapa pelayan Gereja. “Saya satu dengan saudara-saudara uskup, maka tepatlah meminta maaf dan berupaya mendukung para korban, bahkan kami berkomitmen untuk memastikan hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi.”

Mengakhiri pidatonya, Paus berbicara tentang isu yang dekat dengan hatinya, yakni perlindungan atas ciptaan dengan mengatakan bahwa menanggapi masalah lingkungan dan ekologi yang berat menuntut keberanian mengambil “cara istimewa dalam melihat sesuatu,” yakni meningkatkan kebaikan bersama.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Komunitas biarawan Dominikan di Indonesia akan wujudkan kehadiran setia, relevan dan stabil

Rab, 17/01/2018 - 01:57

Para imam dan frater Dominikan (Ordo Pewarta, OP) Indonesia yang sedang menjalankan formasi di Indonesia dan di Filipina, kecuali para novis, baru-baru ini bertemu di Surabaya dan menetapkan visi dan misi pertama untuk misi Dominikan Indonesia.

Ordo Dominikan pernah hadir di Indonesia sejak 1551 hingga 1769, dan formatio para calon Dominikan pertama kali untuk para calon dari Indonesia dimulai di Filipina tahun 1996 dan tahbisan imam Dominikan dari Indonesia pertama terjadi tahun 2006.

Setelah lebih dari 10 tahun berkarya di Indonesia, demikian informasi yang diterima PEN@ Katolik, mereka merasa sudah waktunya menetapkan arah yang lebih jelas dan yang dapat mengilhami dan membimbing kedua rumah mereka di Indonesia, yakni Rumah Santo Dominikus di Pontianak dan Rumah Santo Thomas Aquino di Surabaya.

Oleh karena itu mereka mengundang beberapa pembicara untuk memberikan masukan dan setelah berbagi, para peserta pertemuan di  Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, 19-20 Desember 2017 itu menetapkan bahwa pada pesta perak perayaan kembalinya komunitas Dominikan di Indonesia, mereka akan mewujudkan kehadiran “komunitas Dominikan yang setia, relevan dan stabil” sebagai visi bersama.

Terinspirasi oleh cinta kasih Bapa Suci Santo Dominikus bagi Gereja, sebagai komunitas Dominikan Indonesia mereka menetapkan “mengontemplasikan dan mewartakan Kebenaran di dalam konteks kebinekaan, serta berjuang untuk ikut serta dalam kemajuan yang menyeluruh bagi Gereja dan masyarakat Indonesia” sebagai misi mereka.

Selain Promotor Misi Pastor Joemar Sibug OP, pertemuan bertema “Biarawan Dominikan sebagai Pelayan Gereja di Indonesia dari 2018 ke Masa Depan” itu menghadirkan antara lain Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono dan Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Pastor Siprianus Hormat Pr, Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Santo Doinikus di Indonesia Suster Anna Marie OP, dan wakil ketua Dominikan Awam Indonesia Welem Elimkusuma OP.

Mgr Agus mengingatkan bahwa melalui inisiatif delapan uskup Kalimantan, para Dominikan dapat memulai kembali misinya setelah para Dominikan Portugis meninggalkan Indonesia di abad ke-17. “Biarawan Dominikan diundang terutama untuk membantu pembentukan intelektual para imam dan masyarakat melalui keterlibatan di Seminari Tinggi Antarkeuskupan di Kalimantan,” kata uskup agung itu.

Sementara itu Mgr Wisaksono menceritakan bahwa devosinya kepada Our Lady of Manaoag telah menuntunnya ke sebuah keputusan untuk membawa Dominikan ke keuskupannya. Namun, Uskup Surabaya itu sepakat dengan Mgr Agus bahwa “misi intelektual harus menjadi andalan utama Dominikan di Surabaya, di Pontianak dan di Indonesia.” Kedua uskup itu menyatakan akan terus melanjutkan dukungan mereka bagi para Dominikan di keuskupannya masing-masing.

Setelah menguraikan situasi dan tantangan yang dihadapi Gereja di Indonesia saat ini serta menekankan konteks Indonesia sebagai masyarakat majemuk dan kenyataan bahwa Gereja Katolik tetap merupakan minoritas di banyak wilayah, Pastor Siprianus menantang para biarawan Dominikan untuk “memberikan kontribusi khusus dengan karisma Dominikan dalam membuat Gereja Indonesia selalu relevan dan signifikan.”

Suster Anna Marie OP berharap agar kolaborasi yang lebih kuat antara saudara laki-laki dan perempuan bisa terwujud di masa depan. Sementara itu, Welem Elimkusuma OP meminta dukungan lebih kuat dari para imam dan frater Dominikan bagi formasi Dominikan awam, “sehingga ke depannya kami bisa sungguh menjadi mitra dalam misi.”

Visi dan misi pertama untuk misi Dominikan Indonesia itu tak lepas dari bantuan Pastor Joemar Sibug OP, yang mengingatkan dalam homili Misa bahwa setiap misi adalah misi Tuhan sendiri, yang membantu peserta memusatkan perhatian pada pemahaman Provinsi Dominikan Filipina tentang misi, dan yang memberikan beberapa panduan penting tentang perumusan pernyataan visi misi.

Ketersediaan Maria adalah titik yang sangat penting bagi sejarah keselamatan, tegas wakil provinsi di Indonesia Pastor Edmund Nantes OP, seraya mengingatkan peserta dalam Misa penutup untuk “sepenuhnya bersedia ketika Tuhan memanggil untuk melakukan misi-Nya di Indonesia.” (Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP)

Halaman