Gagasan Homili

Ulasan Injil mingguan

Injil Minggu XV/B tgl. 15 Jul 2018 (Mrk 6:7-13)

MENGHARAPKAN KEDATANGANNYA
Rekan-rekan yang budiman!
Bagi kedua belas murid, seperti diutarakan dalam Mrk 6:7-13 (Injil Minggu Biasa XV tahun B), diutus berarti siap berangkat mewartakan tobat, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit. Juga para utusan diminta agar berani pergi tanpa membawa kelengkapan. Hanya yang paling dibutuhkan boleh dipakai: tongkat dan alas kaki saja. Mereka juga tak boleh takut tidak diterima dengan baik. Itukah syarat-syarat agar dapat memakai kuasa yang dipercayakan Yesus kepada mereka? Begitulah perasaan kedua belas murid pada waktu itu. Ay. 12-13 memberi kesan bahwa mereka sanggup menjalankan pengutusan ini dengan gairah. Bagaimana dengan kita para pendengar dan pembaca Injil pada zaman ini? Apakah kita diharapkan menjadi seperti mereka? Marilah kita dalami terlebih dahulu kisah pengutusan ini.

Injil Minggu XIV B tgl. 8 Jul 2018 ( Mrk 6:1-6)

HERAN MEREKA TIDAK PERCAYA
Dalam Mrk 6:1-6, yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XIV tahun B, diceritakan bahwa di Nazaret, di tempat asalnya sendiri, Yesus “tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun”. Amat berbeda dengan bagian-bagian sebelumnya yang mengisahkan bagaimana ia meredakan angin ribut, mengusir banyak roh jahat dari orang Gerasa, menyembuhkan seorang perempuan, dan menghidupkan kembali anak Yairus. Di Nazaret pengajarannya memang dikagumi dan kabar mengenai mukjizat-mukjizatnya jadi bahan pembicaraan. Tetapi orang-orang itu tidak bisa menerima bahwa dia itu cuma salah seorang dari antara mereka sendiri. Mereka sudah mengenal latar belakang pekerjaannya dan keluarganya. Tak ada yang baru! Dan mereka “tersandung olehnya” (terjemahan LAI: “menolak dia”), demikian catat Markus.

Injil Minggu Biasa XIIIB 1 Jul 2018 (Mrk 5:21-43)

DAHSYATNYA BERHARAP
Rekan-rekan yang baik!
Kali ini ada kisah mukjizat yang unik susunannya. Kisah mengharukan mengenai kesembuhan seorang perempuan dari sakit pendarahan (Mrk 5:25-34) terbingkai di dalam kisah Yesus menghidupkan kembali anak perempuan Yairus (Mrk 5:21-24, 35-43). Kedua peristiwa itu terjalin satu sama lain lewat harapan yang kuat dan penuh kepercayaan dari orang-orang yang mendekat kepada Yesus, baik Yairus maupun perempuan tadi. Kekuatan penyembuh dalam diri Yesus tidak bisa tinggal diam di hadapan harapan yang sebesar itu dan kepercayaan yang selugu itu.

Injil Minggu 24 Juni 2018 (Luk 1:57-66.80)

Rekan-rekan yang baik!

Minggu tgl. 24 Juni 2018 ini dirayakan kelahiran Yohanes Pembaptis (Luk 1:57-66.80). Pada awal petikan Injil ini dikisahkan bagaimana istri Zakharia, Elisabet, yang mengandung pada usia lanjut, kini melahirkan anak laki-laki. Para tetangga dan sanak saudara menyadari bahwa Tuhan telah merahmati pasangan ini. Mereka pun berdatangan memberi selamat. Mereka ingin agar anak ini dinamai Zakharia seperti bapaknya. Tetapi Elisabet mengatakan anaknya harus dinamai Yohanes.

Injil Minggu XI/B tgl. 17 Juni 2018 (Mrk 4:26-34)

Rekan-rekan yang budiman,

Dalam Mrk 4:26-34 (Injil Minggu Biasa XI/B) didapati dua buah perumpamaan mengenai Kerajaan Allah (ayat 26-29 dan 30-32) diikuti sebuah catatan bahwa Yesus memakai perumpamaan bagi orang banyak tapi bagi para murid diberikannya penjelasan tersendiri (ayat 33-34). Perumpamaan yang pertama hanya didapati dalam Injil Markus, sedangkan yang kedua diceritakan juga dalam Mat 13:31-32 dan Luk 13:18-19. Guna memahami warta petikan ini baiklah ditengok sejenah gagasan apa itu Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah

Injil Minggu Biasa X/B - 10 Juni 2018 (Mrk 3:20-25)

Rekan-rekan yang baik!

Mrk 3:20-35 (Injil Minggu Biasa X tahun B) mengisahkan bagaimana tokoh Yesus yang dikagumi, diterima, dan diikuti orang banyak itu justru dianggap tidak waras oleh orang-orang yang paling dekat dengannya. Para ahli kitab dari Yerusalem, yakni para ulama yang dihormati, malah beranggapan Yesus itu dirasuki setan. Mengapa begitu? Bagaimana sikap Yesus? Pengajaran mana dapat dipetik dari bacaan Injil kali ini?

TOKOH KONTROVERSIAL...BAGI SIAPA?

Minggu Tubuh dan Darah Kristus 3 Jun 2018 (Mrk 14:12-16.22-26)

DALAM KESATUAN BATIN

Peristiwa yang dikisahkan dalam Injil bagi pesta Tubuh dan Darah Kristus kali ini dikaitkan Markus dengan Perjamuan Paskah Yahudi (Mrk 14:12-16). Begitu pula dalam Injil Matius dan Lukas (Mat 26:2. 17-19; Luk 22:7-14) yang memang ditulis atas dasar bahan Markus. Yohanes lain. Baginya, peristiwa itu bukan Perjamuan Paskah, melainkan perjamuan perpisahan Yesus dengan murid-muridnya. Pada hari Paskah Yahudi sendiri, menurut Yohanes, Yesus sudah meninggal (bdk. Yoh 18:28; 19:14) dan justru wafatnya diartikannya sebagai korban domba Paskah. Pembicaraan kali ini tidak mencakup Mrk12: 22-26 yang ikut dibacakan pada perayaan kali ini.

KAPAN TERJADI?

Minggu 27 Mei 2018:Tritunggal Mahakudus (Mat 28:16-20 & Rom 8:14-17)

Rekan-rekan yang budiman!
Seperti diperintahkan sang Guru, para murid kini berkumpul di Galilea. Yesus sendiri telah mendahului mereka. Begitulah, seperti disampaikan Matius pada akhir Injil pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus tahun ini (Mat 28:16-20), di Galilea, di sebuah bukit yang ditunjukkan sang Guru, mereka melihat Yesus dan mengenali kebesarannya, dan mereka sujud kepadanya. Kepada mereka ia menegaskan bahwa semua kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepadanya (ay. 18); sehingga tak perlu lagi ada keraguan (terungkap pada akhir ay. 17). Para murid diminta memperlakukan semua bangsa sebagai muridnya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (ay. 19-20a). Ia juga berjanji menyertai mereka hingga akhir zaman (ay. 20b).

Minggu Pentakosta 20 Mei 2018 (Yoh 15:26-27; 16:12-15)

DISERU AGAR DATANG MENOLONG

Rekan-rekan yang baik!

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan lain, lihat Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13. Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, peringatan “hari ke-50” ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

Minggu Paskah VII tahun B - 13 Mei 2018 (Yoh 17:11b-19)

DOA YESUS BAGI PARA MURID

Pada hari Minggu Paskah VII tahun B ini dibacakan bagian doa Yesus pada perjamuan terakhir bagi para muridnya (Yoh 17:11b-19). Yesus meminta agar Bapa memelihara para murid dalam nama-Nya agar mereka menjadi satu seperti dia satu dengan Bapa. Diungkapkannya pula bahwa para murid diutus ke dunia, sebagaimana ia sendiri. Marilah kita dalami unsur-unsur itu dan lacak ke mana arahnya bagi zaman kita sekarang.

Minggu Paskah VI/B - 6 Mei 2018 (Yoh 15:9-17)

KEBERSAMAAN YANG MENGHIDUPKAN

Rekan-rekan yang budiman!

Bacaan Injil Yohanes bagi Minggu Paskah VI tahun B ini (Yoh 15:9-17) sarat dengan kosakata yang berhubungan dengan gagasan mengenai kasih, yakni “saling mengasihi”, “tinggal dalam kasih” “memberikan nyawa demi sahabat-sahabatnya”. Petikan ini diangkat dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan pengajaran Yesus kepada para murid selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26). Para murid perlu belajar hidup terus tanpa kesertaan Yesus seperti biasa. Mereka diajarnya membangun kebersamaan dalam ujud lain. Dengan tujuan itulah kiranya diberikan pesan-pesan mengenai saling mengasihi dan sepenanggungan.

PENGAJARAN KHUSUS

Minggu Paskah V/B 29 April 2018 (Yoh 15:1-8 & 1Yoh 3:18-24)

POKOK ANGGUR YANG BENAR?

Rekan-rekan yang baik!

Menurut Yoh 15:1-8 Yesus mengumpamakan diri sebagai pokok pohon anggur yang benar dan para murid ialah ranting-ranting yang tumbuh dari pokok itu. Juga Bapanya yang ada di surga digambarkannya sebagai Dia yang mengusahakan agar ranting-ranting semakin berbuah. Apa maksud petikan ini?

Ada kesejajaran antara bacaan kedua (1Yoh 3:18-24) dengan petikan Injil. Penulis surat itu mengajak orang menyadari bahwa Allah itu sumber kehidupan yang sungguh (ay. 19). Seperti digambarkan dalam Injil kali ini, Dia itu pokok yang menjadi tumpuan hidup ranting-ranting. Juga kian jelas bahwa di dalam ranting yang hidup mengalir kekuatan yang berasal dari pokok. Sehubungan dengan itu, bacaan kedua, 1Yoh 3:18-24, melukiskan daya ini sebagai kehadiran Roh dalam diri orang yang percaya (ay. 24).

BACAAN DAN LITURGI

Minggu Paskah IV B 22 Apr 2018 (Yoh 10:11-18 & 1 Yoh 3:1-2)

TENTANG GEMBALA YANG BAIK

Dalam Yoh 10:11-18 Yesus mengibaratkan diri sebagai gembala bagi kawanan dombanya. Sebagai gembala, ia takkan lari bila ada serigala menyerang domba-dombanya. Tidak seperti orang upahan yang tak bertanggung jawab. Ia mengenal domba-dombanya dan mereka mengenalnya. Sebelum mulai membicarakan ibarat “gembala” dalam petikan yang dibacakan pada hari Minggu Paskah IV tahun B ini, baiklah dicatat bahwa dalam Injil Yohanes gagasan “gembala” sama dengan yang empunya kawanan domba. Tidak semua yang menggembalakan kawanan dibicarakan sebagai “gembala” yang dalam Injil Yohanes juga menjadi pemilik kawanan tadi.

GEMBALA YANG BAIK

Minggu Paskah III tahun B 15 Apr 2018 (Luk 24:35-48;1Yoh 2:1-5a)

DIA SUNGGUH HIDUP!

Kawan-kawan yang baik!

Kemarin Romo kalian meminta saya mengisi ruang ulasan Injil kali ini. Sekadar variasi, katanya. Dengar-dengar Luk 24:35-48 dibacakan sebagai Injil Minggu Paskah III tahun B ini. Nah, ada kawan yang bertanya, kenapa diceritakan bahwa para murid tak langsung mengenal Yesus yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Malah mereka menyangkanya hantu. Ada juga yang bertanya, apa sih maksudnya kok Yesus minta diberi makan segala, apa ini perkara sajian kepada arwah. Katanya di negeri kalian ada adat seperti itu. Ah, lain padang lain belalangnya.

Minggu Paskah II th B 8 Apr 2018 (Yoh 20:19-31; 1Petr 1:3-9)

“DAMAI SEJAHTERA BAGI KAMU!”

Peristiwa kebangkitan diwartakan dalam Injil Yohanes sebagai penjelasan mengapa Yesus yang baru saja dimakamkan itu tidak lagi diketemukan di situ, dan mengapa para murid tidak lagi merasa kehilangan dia. Bahkan kini mereka semakin merasakan kehadirannya. Agak ada miripnya dengan ingatan mengenai akan orang-orang yang sudah mendahului tetapi tetap menjadi bagian hidup kita. Tetapi besar pula bedanya. Bagi para murid, menimang-nimang ingatan akan dia yang pernah berada bersama mereka di dunia bukan lagi hal yang penting. Dia bukan lagi sekadar kenangan mereka. Mereka malah merasa lebih menjadi bagian Yesus yang bangkit itu. Itulah persepsi mereka akan kebangkitan Yesus. Dan pengalaman ini mengubah kehidupan mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi penuh kedamaian. Ini disampaikan dalam Yoh 20:19-31 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah II.

DAMAI & HIDUP SEJAHTERA

Halaman

Subscribe to RSS - Gagasan Homili