denpasar

Hari Studi Unio Keuskupan Denpasar 23 - 25 April 2018

Hari Studi Unio Keuskupan Denpasar 23 - 25 April 2018

Hari Studi Romo Unio Keuskupan Denpasar dengan tema "Menjadi Pemimpin yang Transformatif dan Pembelajar di Jaman Now."

Imam Diosesan di Tengah Arus Zaman

IMAM DIOSESAN DI TENGAH ARUS ZAMAN
(Inti Sari Ret-Ret Imam Unio Keuskupan Denpasar)
Oleh: RD Eman Ano

Selagi bumi tak berhenti berputar mengelilingi matahari, maka dunia dengan ruang dan waktu yang menghiasinya takkan pernah berhenti untuk berubah-ubah. Maka yang kekal adalah perubahan menjadi kebenaran yang tak terbantahkan sebagaimana telah dikumandangkan Herakleitos, filsuf kuno, yang pemikirannya itu malah tak pernah kuno.

Bumi atau dunia dengan ruang dan waktu yang berubah-ubah itu kita kategorikan sebagai zaman. Umumnya oleh Filsafat, zaman itu terbagi atas kuno-modern-postmodern dan kontemporer. Apapun bentuk dan kondisi zaman yang ada, yang pasti ada perubahan di setiap zaman. Dan dalam proses menuju perubahan selalu ada arus yang bermain, yang kadang bergerak cepat-lambat, pasang-surut. Dalam arus zaman itulah “the special calling”, para imam diosesan berkiprah dan berjuang menabur dan mewartakan benih Kerajaan Allah yang telah dimulai oleh Sang Guru Imam Agung Yesus Kristus. Pertanyaan mendasar di sini yakni: Mampukan para imam Diosesan mendayung dan bergerak maju dalam arus zaman yang ada? Dengan mengusung kekuatan iman bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil”, maka mampu dan bisa merupakan jawaban yang dapat diberikan.

Sebagai Para Imam Diosesan di Keuskupan Denpasar, yang mencakup Bali dan NTB, dengan sikon yang ada telah dan akan selalu memberikan arus zaman yang menantang dan musti dihadapi untuk dilalui dengan dan bersama Yesus Sang Guru. Maka, ret-ret kali ini yang mengambil tema IMAM DIOSESAN DI TENGAH ARUS ZAMAN, sebenarnya mencerminkan keseriusan dan kesanggupan kami untuk siap berjuang dan bergulat melintasi arus zaman yang ada untuk menabur-menumbuhkembangkan (atau dalam bahasa Sinode III Keuskupan Denpasar), memancarkan wajah Kristus dalam arus zaman yang sedang dan terus bergelora di Keuskupan ini.

Imam Diosesan: Butuh kerohanian dan pembebasan bagi Perubahan

Ret-ret UNIO Keuskupan Denpasar yang berlangsung di Batu Riti-Bedugul, pada, 31 Agustus – 5 September 2015 dibuka dengan Perayaan Ekaristi Kudus, yang dipimpin langsung oleh Pendamping Ret-Ret, Rm. Dr. Dominikus Gst Bgs Kusumawanta, Pr. Pastor Paroki Gianyar, yang pada tahun ini merayaan perak imamatnya, melalui kotbahnya menantang dan mengajak para imam untuk mengintrospeksi diri sambil bertanya: Apakah yang menjadi branding, kekhasan utama di Keuskupan kita, yang dengan mengacu padanya kita bergerak dan berjuang sebagai agen pastoral di Keuskupan ini pada zaman ini? Refleki atas pertanyaan tersebut dengan berinspirasikan Injil Lukas 4 yang bagi beliau dipandang sebagai revolusi sosial Yesus, memunculkan tiga kebutuhan berikut: Pertama, Imam Diosesan perlu kerohanian untuk perubahan; Kedua, perlu pembebasan untuk perubahan dan Ketiga, perlu selalu menjaga persekutuan (communion) dengan Tuhan, sesama dan umat untuk memperjuangkan perubahan.

Imam itu “A person set apart of God”

Pergumulan mendalami tema ret-ret kali ini, diawali dengan membangkitkan kembali refleksi essensial dari eksistensi seorang imam. Bahwa panggilan imam itu bermula dari kerinduan, keinginan Tuhan karena cintaNya untuk pribadi terpanggil. “Mari, ikutilah Aku” (Mrk. 2:14). Tuhan yang punya inisiatif. Menjadi imam itu pilihan Tuhan (Luk. 6:13), penetapan Tuhan, penetapan Illahi dan berlaku SELAMANYA (karakter infilibilitas:tak terhapuskan). Penetapan itu internal, bukan eksternal, dari dalam Kehendak Tuhan. Panggilan itu khusus dari Allah karena kita menjadi pribadi yang istimewa. Imam itu “A person set apart of God” (Luk 6:12-16). Imam terpanggil pada kekudusan dan kemuliaan Allah. Imam itu reperesanti dari Sang Guru kita Yesus Kristus. “Disciple attached to the master”. Tugas imam yakni berdoa. “Prayer is breath of the disciple life”. Lalu mewartakan Sabda Tuhan. “Listen to the world of the Master”.

Disposisi Imam di Tengah Arus Zaman

Zaman ini, dengan arus dan pergerakannya yang begitu cepat telah memberikan perubahan yang signifikan. Perubahan itu, bagi para imam yang juga berada dan berjuang bagi menabur dan menumbuhkembangkan Kerajaan Allah di dunia menjadi tantangan yang menarik. Saya lalu teringat dengan sebuah istilah theologi dogmatic yang pernah dikemukakan oleh dosen favorit saya waktu kuliah di STFK Ledalero, yang hemat saya bisa melukiskan situasi itu: “Tremendum et fascinosum”: sebuah situasi yang menakutkan tapi menarik dan sayang kalau tidak digenggam dan digeluti. Arus zaman ini, dengan perubahan yang menjadi tantangan itu memang di satu sisi menakutkan, tapi di sisi yang lain disayangkan untuk tidak digenggam atau dibiarkan berlalu tanpa kita para imam “menceburkan” diri atau “bertolak ke kedalaman” untuk mengendus, menemukan dan menebarkan benih Kerajaan dan kemuliaan Allah di dalamnya. Imperatif Yesus kepada para muridNya untuk pergi, kamu diutus juga mengandung arti bahwa kita perlu pergi, masuk dan bergulat dalam arus zaman yang sedang berkembang dan menggelora untuk “menemukan” dan “menampakan” keselamatan dan kemuliaan Allah bagi dunia.

Para Imam Diosesan merupakan imam yang telah-sedang dan akan selalu diutus dalam arus zaman yang sedang terjadi. Salah satu identitas zaman ini yakni adanya wajah lesu dari pribadi-pribadi yang “lelah” memperjuangkan kehidupan dalam zaman yang serba kompetitif dan bergerak begitu cepat, yang oleh Arbi Sanit, dalam bukunya: Mega trend 200O, dilukiskan sebagai sikon yang bergerak begitu cepat, dan kita manusia lari terbirit-birit mengejar ketertinggalan yang terjadi. Pertanyaannya, bagaimana para imam memposisikan diri dalam arus zaman yang terjadi seperti itu?

Retret Imam Unio Keuskupan Denpasar

Kegiatan tahunan Unio Keuskupan Denpasar 2015 adalah Retret Imam. Menarik bahwa retret Unio keuskupan Denpasar 2015 dibimbing oleh Pastor Paroki Gianyar yang telah merayakan 25 tahun imamat. Dengan tema: "Imam Diosesan di tengah Arus Zaman." Dalam retret itu ada beberapa sesi: pertama. Panggilan Murid-Murid, Imam" Pelayan Iman, Ekaristi sumber spiritualitas hidup imam, Imam dan Kepemimpinan, Imam : Pewarta Sabda Tuhan. Dalam persoalan hidup imam diosesan ditemukan banyak terjadi tabrakan kehidupan yang tidak jarang membuat luka-luka batin. Maka di hari terakhir ada penerimaan sakramen pengakuan lalu Adorasi Sakramen Maha Kudus dengan Pembaharuan janji imamat. Semoga para imam Unio Keuskupan Denpasar menjadi akar tunggang keuskupan Denpasar. Pemberi retret Romo I Gst Bgs Kusumawanta (Pastor Paroki Gianyar) dan Bapak Vincent (Semarang). Tu est Sacerdos in Aeternum.

Sekilas Info tentang Gereja Lokal Keuskupan Denpasar

Wilayah Keuskupan Denpasar meliputi 3 pulau yaitu pulau Bali, Lombok dan Sumbawa. Menurut pembagian wilayah pemerintahan, Keuskupan Denpasar meliputi 2 wilayah propinsi yaitu Propinsi Bali dan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Propinsi Bali memiliki 8 kabupaten dan 1 kotamadya sedangkan Propinsi NTB memiliki 6 kabupaten dan 1 kotamadya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa wilayah Keuskupan Denpasar cukup luas, terbentang mulai dari Bali Barat hingga Sape di ujung timur pulau Sumbawa. Pusat Keuskupan (Kantor Keuskupan) berada di kota Denpasar, maka Keuskupan ini  dikenal dengan nama Keuskupan Denpasar.

Setelah mengadakan Sinode I Keuskupan Denpasar pada bulan Januari 2001 yang lalu, wilayah Keuskupan Denpasar terbagi dalam 3 dekenat yaitu Dekenat Bali Barat, Dekenat Bali Timur dan Dekenat Nusa Tenggara Barat (NTB). Dan terdapat 21 paroki dan 3 stasi mandiri. Dari 21 paroki ini, 9 paroki berada di wilayah Dekenat Bali Timur, 5 paroki di Dekenat Bali Barat dan 7 paroki di dekenat NTB. Setiap paroki sesuai dengan keadaan dan kemampuannya telah berusaha  untuk memekarkan diri dengan membentuk lingkungan-lingkungan atau sektor-sektor dan komunitas-komunitas basis gerejawi untuk memudahkan pelayanan dan    meningkatkan keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja.

Dalam menggembalakan umat di Keuskupan Denpasar ini Bapak Uskup dibantu oleh 44 orang imam, yang terdiri dari 26 orang imam diosesan, 14 orang imam SVD, 1 orang imam CDD, 1 imam OCD dan 2 imam O’Carm. Mengingat wilayah Keuskupan Denpasar yang cukup luas dan jumlah tenaga imam yang sangat sedikit  maka masih ada paroki/stasi yang belum mempunyai imam sendiri. Bahkan masih ada imam yang menjabat sebagai pastor paroki di dua tempat. Ada 17 biara/tarekat suster yang berkarya di Keuskupan Denpasar. Biara/tarekat itu adalah AK, CB, CIJ, JMJ, PRR, RVM, OSF, SSpS, SPM, FdCC, MBC, Brigit’s Sister, Suster-suster Katekis, SCMM, OP, SMI, SFsc. Suster-suster ini berkarya di bidang pendidikan, kesehatan, pastoral dan karya-karya sosial, dan 2 orang bruder SVD.  Karya Pastoral di Keuskupan Denpasar juga didukung oleh 18 orang tenaga katekis. Katekis-katekis ini ada yang bertugas di paroki sebagai Katekis Paroki dan ada yang bertugas di Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar yang menangani 13 komisi.

Perkembangan jumlah umat Katolik di Keuskupan Denpasar cukup pesat, khususnya di daerah-daerah perkotaan seperti kota Denpasar dan kota Mataram.  Hal ini terjadi karena Kota Denpasar dan Kota Mataram  merupakan pusat pariwisata, bisnis dan kota tujuan para pelajar. Meski demikian bila dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan maka jumlah umat Katolik, baik di Bali maupun di NTB tergolong minoritas. Secara keseluruhan, berdasarkan Data Umat Keuskupan Denpasar tahun 2008, umat Katolik di Keuskupan Denpasar berjumlah 36.025 orang.

Yayasan yang menunjang karya kerasulan Gereja Keuskupan Denpasar ada 9 yayasan, yakni 4 yayasan berkarya di bidang pendidikan dan  5 yayasan  bergerak di bidang kesehatan. Juga ada seminari yakni Seminari Menengah Roh Kudus Tuka, yang mendidik calon-calon imam dari Keuskupan Denpasar dan lain-lain. Dalam bidang karya sosial ada 3 panti asuhan yang dikelola oleh  para suster, lima Panti Penitipan Anak (TPA) dan satu koperasi simpan pinjam yang lebih dikenal dengan nama KOPDIT Artha Bhakti  Asih,  yang anggota-anggotanya selain para romo, karyawan keuskupan dan karyawan yang  bekerja di unit-unit di bawah naungan keuskupan, juga terbuka untuk kalangan umum.

Setelah kurang lebih satu tahun umat Keuskupan Denpasar kehilangan Gembalanya, Mgr. Benyamin Yosef Bria, Pr yang dipanggil Tuhan pada tanggal 18 September 2007 yang lalu, kini Umat Keuskupan Denpasar sudah mempunyai seorang Gembala yang baru, yakni, Mgr. DR. Silvester San Pr, Klerus Keuskupan Agung Ende, yang diangkat oleh Takhta Suci untuk menjabat sebagai Uskup Denpasar. Kabar gembira ini diumumkan pada tanggal 22 November 2008, dan upacara pentahbisannya dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2009 di Gereja Katedral Roh Kudus Denpasar.

Tags: 
Subscribe to RSS - denpasar